PTK – Pertemuan 1 – Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

PTK – Pertemuan 1

Diagnosis Masalah dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

I. Konteks dan Definisi PTK

I. Konteks dan Definisi PTK

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) didefinisikan sebagai metodologi penelitian terapan yang bertujuan fundamental untuk meningkatkan kualitas praktik pengajaran secara profesional dan sistematis. PTK dilaksanakan melalui sebuah siklus berulang yang secara umum terdiri dari empat tahapan esensial: Perencanaan (Planning), Tindakan (Action), Observasi (Observation), dan Refleksi (Reflection), yang dikenal sebagai model P-A-O-R. Model siklus ini menegaskan bahwa PTK bukanlah kegiatan linear, melainkan proses iteratif di mana pendidik terus-menerus mendiagnosis masalah, merancang dan mengimplementasikan tindakan inovatif, mengumpulkan data mengenai dampak tindakan tersebut, dan menganalisis data untuk merencanakan perbaikan pada siklus berikutnya.

Fungsi PTK dalam Konteks Pendidikan Agama Kristen (PAK)

Dalam konteks akademik dan praktik Program Studi Pendidikan Agama Kristen (PAK), penerapan metodologi PTK memiliki peran ganda yang krusial. PTK berfungsi sebagai alat metodologis yang kuat untuk transformasi profesional bagi calon pendidik. Secara spesifik, PTK memfasilitasi calon pendidik untuk:
1. Mengembangkan Sikap Reflektif dan Kritis: PTK mendorong mahasiswa untuk keluar dari rutinitas mengajar dan secara sistematis mengevaluasi efektivitas metode pengajaran, kurikulum, dan interaksi yang terjadi di kelas. Hal ini menumbuhkan kesadaran diri sebagai pendidik yang selalu siap mengkritisi dan memperbaiki praktik mereka sendiri demi mencapai tujuan pendidikan PAK.
2. Mengidentifikasi dan Menyelesaikan Masalah Praktis: PTK membekali mahasiswa dengan kerangka kerja untuk secara ilmiah mendiagnosis masalah spesifik yang dihadapi di lingkungan belajar PAK—seperti rendahnya pemahaman teologis, kurangnya keterlibatan siswa dalam ibadah, atau tantangan moral-etika. Dengan demikian, mahasiswa dapat merancang solusi tindakan yang kontekstual dan teruji.
3. Menciptakan dan Menguji Inovasi Tindakan: PTK adalah sarana untuk mengembangkan dan menguji model, strategi, atau media pengajaran baru yang relevan dengan materi PAK. Hal ini penting untuk memastikan bahwa tindakan intervensi (seperti penggunaan metode storytelling alkitabiah atau simulasi pelayanan) benar-benar efektif dalam meningkatkan kompetensi kognitif, afektif, dan psikomotorik peserta didik.
Inti dari Penelitian Tindakan Kelas (PTK) melampaui sekadar pemenuhan persyaratan akademis, seperti prasyarat skripsi. Metodologi ini memiliki tujuan yang lebih dalam, yakni pemberdayaan pendidik di bidang Pendidikan Agama Kristen (PAK). PTK secara fundamental mengubah peran mahasiswa dan guru PAK dari yang semula hanya berstatus sebagai pelaksana kurikulum menjadi agen perubahan yang reflektif dan inovatif. Melalui siklus tindakan, observasi, dan refleksi, pendidik didorong untuk tidak hanya mengikuti pedoman yang ada, tetapi juga untuk secara kritis menilai keefektifan praktik mereka dan merancang perbaikan yang kontekstual.

Peran PTK sebagai Katalisator Perubahan Profesional

PTK memberdayakan pendidik dengan kemampuan untuk menghasilkan pengetahuan praktis yang relevan dan teruji, yang sangat berharga bagi komunitas pendidikan teologis dan gerejawi. Pengetahuan ini bukan hasil dari teori abstrak, melainkan lahir dari intervensi nyata di lapangan, misalnya dalam mengatasi masalah spesifik seperti rendahnya pemahaman doktrinal atau apatisme siswa terhadap pelayanan. Dengan mendokumentasikan dan merefleksikan keberhasilan maupun kegagalan tindakan, pendidik PTK menciptakan basis data solusi yang dapat direplikasi dan diadaptasi. Oleh karena itu, laporan PTK yang dihasilkan bukan hanya laporan penelitian, melainkan sebuah kontribusi nyata yang memperkaya pedagogi PAK, membantu rekan sejawat menghadapi tantangan serupa, dan pada akhirnya, secara sistematis meningkatkan kualitas pengajaran dan pelayanan di lingkungan gereja atau sekolah Kristen.

II. Diagnosis: Langkah Awal (Langkah 1 PTK)

II. Diagnosis: Langkah Awal (Langkah 1 PTK)

Langkah awal yang esensial dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah Diagnosis Masalah, yang secara metodologis dikenal sebagai Langkah 1 PTK. Secara fundamental, diagnosis ini merupakan proses sistematis yang dirancang untuk secara kritis mengidentifikasi kesenjangan antara kondisi ideal (teoritis atau normatif)—yakni standar pencapaian atau praktik pedagogis yang seharusnya—dengan kondisi aktual (empiris) yang benar-benar terjadi dalam praktik pengajaran. Proses diagnosis ini bertindak sebagai fondasi logis dan ilmiah bagi keseluruhan proyek PTK; tanpa identifikasi masalah yang akurat dan tervalidasi, intervensi yang direncanakan berisiko tidak relevan atau tidak efektif. Oleh karena itu, langkah ini mengharuskan pendidik untuk mengamati secara cermat dan reflektif terhadap kinerja kelas, bukan hanya untuk melihat apa yang salah, tetapi untuk memahami mengapa hal tersebut salah, sehingga masalah yang dipilih benar-benar layak untuk diatasi.

Tujuan dan Komponen Kunci Diagnosis Masalah

Diagnosis masalah memiliki tujuan utama untuk menetapkan fokus penelitian yang presisi. Tahap ini bukan hanya tentang mengenali adanya kesulitan (misalnya, nilai rendah), tetapi tentang menganalisis kesulitan tersebut secara kausal. Dalam praktik, diagnosis masalah terbagi menjadi dua komponen kunci yang saling terkait. Pertama, Identifikasi Masalah berfokus pada pengenalan gejala-gejala spesifik yang mengindikasikan adanya masalah yang perlu perbaikan. Masalah yang diidentifikasi haruslah spesifik, dapat diintervensi (actionable), dan relevan dengan upaya peningkatan kualitas pembelajaran. Kedua, Validasi Data Awal (Pra-Siklus) mensyaratkan bahwa setiap masalah yang diangkat harus didukung oleh data empiris yang dikumpulkan sebelum tindakan dimulai. Data ini (misalnya, hasil tes awal, catatan observasi, atau wawancara) berfungsi sebagai bukti objektif yang menegaskan signifikansi masalah, sekaligus menjadi data baseline yang akan digunakan sebagai pembanding untuk mengukur efektivitas tindakan pada siklus-siklus berikutnya.
A. Identifikasi Masalah dan Validasi Data Awal
Langkah pertama dalam tahap Diagnosis PTK adalah Identifikasi Masalah, yang merupakan proses kognitif kritis dan reflektif yang dimulai dari kesadaran akan adanya masalah atau tantangan yang secara nyata menghambat pencapaian hasil belajar yang optimal. Masalah yang dipilih harus memenuhi kriteria metodologis yang ketat: harus spesifik (terfokus pada satu aspek), bermakna (signifikan dampaknya terhadap pembelajaran), dan yang terpenting, dapat ditindaklanjuti (actionable)—artinya, masalah tersebut dapat diselesaikan atau ditingkatkan melalui intervensi tindakan yang dirancang oleh peneliti. Dalam konteks PTK, masalah yang diidentifikasi harus secara eksplisit berfokus pada salah satu atau kombinasi dari tiga domain utama: Proses Pengajaran (misalnya, inefisiensi metode, strategi, atau media yang digunakan), Perilaku/Sikap Siswa (misalnya, rendahnya motivasi, disiplin, atau etika belajar), atau Hasil Belajar yang terukur, baik dalam aspek kognitif (pengetahuan), afektif (nilai/sikap), maupun psikomotorik (keterampilan).
Validasi Data Awal (Pra-Siklus)
Setelah masalah diidentifikasi, tahapan metodologis selanjutnya adalah Validasi Data Awal (Pra-Siklus), yang berfungsi sebagai langkah untuk menguji secara empiris bahwa masalah tersebut benar-benar ada dan signifikan, bukan sekadar persepsi. Data awal ini sangat penting karena ia menyediakan bukti objektif atas adanya kesenjangan antara kondisi ideal dan kondisi aktual. Proses validasi dapat dilakukan melalui berbagai instrumen, termasuk analisis nilai ujian sebelumnya, observasi kelas yang terekam dalam catatan lapangan, atau wawancara terstruktur dengan siswa atau rekan guru. Data yang terkumpul dari pra-siklus ini tidak hanya membenarkan perlunya penelitian, tetapi juga menetapkan data baseline. Data baseline inilah yang akan menjadi titik komparasi utama untuk mengukur efektivitas tindakan intervensi yang akan diterapkan pada Siklus I dan seterusnya, sehingga seluruh PTK memiliki dasar ilmiah yang kuat untuk mengklaim adanya peningkatan atau perbaikan.
Teknik Validasi Data Awal (Pra-Siklus)
Untuk memastikan bahwa Penelitian Tindakan Kelas (PTK) didasarkan pada fakta empiris dan tidak hanya pada dugaan atau persepsi subjektif, proses Diagnosis Masalah harus mencakup Validasi Data Awal yang sistematis. Validasi ini memerlukan pengumpulan data baseline (pra-siklus) dengan menggunakan beragam teknik pengumpulan data. Salah satu teknik utamanya adalah Analisis Nilai atau Tes Formatif/Sumatif Sebelumnya, di mana peneliti meninjau catatan akademik siswa untuk mengukur tingkat pencapaian saat ini, mengidentifikasi pola kegagalan, atau mengevaluasi skor rata-rata yang mengindikasikan rendahnya hasil belajar. Data kuantitatif ini memberikan bukti numerik yang konkret mengenai adanya masalah.
Metode Kualitatif dan Dokumen Pendukung
Selain data kuantitatif, PTK memanfaatkan metode kualitatif untuk mendapatkan pemahaman mendalam mengenai konteks masalah. Ini mencakup Observasi Non-Partisipan di Kelas, di mana peneliti mengamati interaksi dan perilaku siswa selama proses pembelajaran tanpa terlibat aktif. Observasi ini, yang didokumentasikan melalui catatan lapangan, sangat berguna untuk mengidentifikasi masalah dalam domain proses pengajaran dan perilaku/sikap siswa, seperti tingkat keterlibatan, motivasi, atau interaksi sosial. Selanjutnya, Wawancara dengan Siswa atau Rekan Sejawat memungkinkan peneliti untuk menggali perspektif, tantangan, dan faktor penyebab masalah dari sudut pandang partisipan. Selain itu, Analisis Dokumen terhadap catatan kehadiran, laporan harian guru, atau jurnal siswa memberikan informasi kontekstual yang dapat mendukung atau menyangkal temuan dari sumber data lain. Dengan mengombinasikan berbagai teknik validasi ini, peneliti dapat menetapkan data baseline yang kokoh, sehingga memastikan bahwa intervensi tindakan yang akan dirancang benar-benar relevan, terfokus, dan terjustifikasi secara ilmiah.
B. Perumusan Fokus Penelitian dan Kriteria Masalah PTK yang Sah
Setelah masalah diidentifikasi dan divalidasi secara empiris, langkah metodologis berikutnya adalah Perumusan Fokus Penelitian (Masalah Penelitian). Proses ini mengubah kesenjangan yang diamati menjadi pertanyaan ilmiah yang terstruktur. Rumusan masalah PTK harus disajikan dalam bentuk pertanyaan yang secara eksplisit mencantumkan dua variabel utama: variabel tindakan inovatif (intervensi) yang diusulkan oleh peneliti, dan variabel masalah (kondisi yang ingin ditingkatkan), seperti motivasi, hasil belajar, atau keterampilan tertentu. Format pertanyaan yang paling umum dan kuat adalah formulasi kausal hipotesis, misalnya: “Apakah penerapan [Tindakan Inovatif] dapat meningkatkan [Masalah/Hasil] pada [Subjek Penelitian]?”. Perumusan yang presisi ini berfungsi sebagai peta jalan, mengarahkan tujuan penelitian, perancangan tindakan, dan instrumen evaluasi yang akan digunakan di sepanjang siklus PTK.
Kriteria Metodologis Masalah PTK yang Sah
Pemilihan masalah PTK harus mematuhi Kriteria Masalah PTK yang Sah untuk memastikan bahwa penelitian memiliki validitas dan kelayakan implementasi. Kriteria ini memastikan masalah yang dipilih layak diteliti melalui siklus tindakan. Pertama, Keterbatasan (Relevance to Practice) mensyaratkan bahwa masalah harus timbul secara otentik dari dan relevan dengan praktik pengajaran sehari-hari yang dilakukan oleh peneliti, bukan masalah yang bersifat abstrak atau teoritis murni. Kedua, Kontrol (Feasibility) menekankan bahwa solusi atau tindakan yang diusulkan harus berada dalam kapasitas dan kontrol penuh peneliti untuk dilaksanakan, termasuk ketersediaan waktu, sumber daya, dan izin. Ketiga, Potensi Peningkatan (Improvability) mengharuskan masalah tersebut memiliki potensi realistis untuk diselesaikan atau ditingkatkan kualitasnya melalui implementasi dan perbaikan dalam siklus tindakan. Terakhir, aspek Signifikansi menegaskan bahwa perbaikan yang dihasilkan harus memiliki dampak yang substantif dan berarti terhadap proses pembelajaran dan hasil belajar siswa, sehingga hasil PTK memiliki nilai praktis yang tinggi bagi komunitas pendidikan.

III. Kriteria Judul PTK yang Baik

III. Kriteria Judul PTK yang Baik

Judul penelitian memegang peranan krusial sebagai representasi ringkas yang mencerminkan seluruh lingkup dan substansi Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Oleh karena itu, judul yang efektif harus memenuhi prinsip koherensi dan komprehensif, memastikan pembaca dapat memahami fokus, intervensi, dan konteks penelitian hanya dalam satu frasa. Judul PTK yang baik wajib memuat secara eksplisit tiga komponen esensial yang mencerminkan hubungan sebab-akibat yang diuji dalam penelitian tersebut. Komponen pertama adalah Masalah atau Variabel Terikat, yaitu kondisi, kompetensi, atau hasil belajar siswa yang menjadi fokus utama perbaikan—seperti motivasi, pemahaman konsep, atau keterampilan tertentu.

Komponen Kunci dan Struktur Judul

Komponen kedua yang harus termuat adalah Tindakan Inovatif atau Variabel Bebas, yang merujuk pada strategi, model, metode, atau media baru yang akan diintervensikan oleh peneliti untuk mengatasi masalah yang teridentifikasi. Tindakan ini merupakan inti dari PTK dan harus terlihat jelas. Komponen ketiga mencakup Subjek dan Lokasi, yaitu peserta penelitian (misalnya, siswa kelas tertentu) dan tempat tindakan tersebut dilakukan (misalnya, di SMP Kristen XYZ). Struktur formal yang disarankan sering mengikuti pola [Peningkatan/Upaya] [Masalah/Y] melalui [Tindakan/X] pada [Subjek] di [Lokasi]. Kepatuhan yang ketat terhadap kriteria ini tidak hanya berfungsi sebagai ringkasan laporan, tetapi juga sebagai mekanisme penjaminan mutu metodologis. Penetapan fokus penelitian yang presisi melalui judul yang terstruktur merupakan prasyarat fundamental untuk merancang tujuan penelitian, rumusan masalah, dan siklus PTK selanjutnya secara logis dan terarah.

Dua Standar Penulisan Judul PTK

Terdapat dua standar utama yang digunakan untuk merumuskan judul PTK, dalam praktik akademik dan profesional di Indonesia,. Perbedaan mendasar terletak pada tingkat spesifisitas konteks (subyek dan lokasi) yang dicantumkan.

Standar 1: Standar Ilmiah dan Jurnalistik (Fokus Variabel)

Standar penulisan judul Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini mengutamakan kesingkatan, ketajaman, dan fokus mutlak pada esensi penelitian. Tujuan utamanya adalah segera mengomunikasikan hipotesis tindakan yang diuji, yaitu hubungan kausal antara Variabel Tindakan (X) dan Variabel Masalah (Y) yang akan diperbaiki. Dalam standar ini, judul harus secara profesional menonjolkan solusi inovatif apa yang diterapkan (Tindakan) untuk mengatasi masalah pembelajaran spesifik (Masalah).
Fokus pada variabel ini berarti semua keterangan kontekstual yang bersifat prosedural atau administratif dihilangkan dari judul. Keterangan spesifik mengenai subyek (misalnya, siswa kelas V) dan lokasi (nama sekolah) tidak dicantumkan. Misalnya, judul yang baik hanya berbunyi: “Peningkatan Keterampilan Menulis Teks Khotbah Singkat melalui Metode Project-Based Learning.” Semua detail mengenai di kelas mana dan di sekolah mana penelitian ini dilakukan akan diuraikan secara rinci dan tepat di bagian Bab III Metodologi Penelitian, khususnya sub-bab Subyek dan Lokasi Penelitian.
Keunggulan utama dari Standar 1 ini adalah profesionalisme dan kemudahan diterima di jurnal ilmiah. Judul menjadi ringkas, berbobot, dan langsung menonjolkan esensi metodologis PTK. Bagi pembaca di komunitas akademik atau jurnal, judul yang fokus pada variabel lebih informatif karena memungkinkan mereka mengidentifikasi inovasi yang diuji, tanpa terbebani detail administratif yang bersifat lokal dan tidak dapat digeneralisasi.

Standar 2: Standar Administratif dan Kontekstual (Fokus Proposal)

Standar penulisan judul PTK ini adalah format yang paling umum dan sering disyaratkan untuk keperluan administratif, seperti pengajuan proposal PTK oleh guru, penyusunan skripsi oleh mahasiswa, atau pengajuan berkas kenaikan pangkat. Tujuannya adalah memberikan gambaran yang lengkap dan spesifik mengenai seluruh batasan penelitian. Dengan standar ini, tim penilai proposal dapat langsung mengidentifikasi di mana dan kepada siapa intervensi akan dilakukan tanpa harus membaca bagian metodologi.
Oleh karena itu, fokus utama judul PTK Standar 2 tidak hanya terletak pada variabel inti (X dan Y) tetapi juga mencakup keterangan Subyek yang diteliti dan Lokasi spesifik penelitian. Semua elemen ini digabungkan secara eksplisit di akhir judul, biasanya dihubungkan dengan kata-kata seperti “pada Siswa Kelas…” dan “di [Nama Sekolah]”. Misalnya, judul yang lengkap berbunyi: “Peningkatan Keterampilan Menulis Teks Khotbah Singkat melalui Metode Project-Based Learning pada Siswa Kelas XI di SMA “Pelita Kasih”.” Contoh lain adalah: “Upaya Mengatasi Keterbatasan Kosakata Bahasa Yunani melalui Penerapan Drill and Practice pada Siswa Kelas XII SMK Immanuel.”
Kelebihan utama dari penggunaan Standar 2 adalah kejelasan kontekstual yang maksimal. Judul ini memberikan kepastian bagi pihak yang berwenang (dinas pendidikan, komite akademik, atau pembimbing) untuk mengidentifikasi dan memverifikasi lokasi serta target subyek penelitian. Dalam konteks PTK, yang sangat terikat pada masalah lokal dan spesifik, Standar 2 ini dianggap sebagai pilihan yang paling praktis dan aman secara administratif.

Latihan di Kelas: Merumuskan dan Menguraikan Judul PTK

Latihan Merumuskan Judul

Latihan 1

Masalah: Rendahnya minat dan kegembiraan belajar siswa pada materi tokoh Alkitab Perjanjian Lama.
Rencana Tindakan: Menerapkan Metode Storytelling dengan Media Flannel Board.
Subyek: Siswa Kelas III SD.
Lokasi: SD Kristen Kasih Bunda, Tahun Ajaran 2025/2026.
Tugas:
A. Rumuskan Judul PTK menggunakan Standar A (Ilmiah/Jurnalistik):
B. Rumuskan Judul PTK menggunakan Standar B (Administratif/Kontekstual)

Latihan 2

Masalah: Rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa dalam menyikapi isu-isu media sosial dari perspektif iman Kristen.
Rencana Tindakan: Menggunakan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL).
Subyek: Siswa Kelas IX SMP.
Lokasi: SMP Negeri 5 Jakarta, Semester Ganjil 2025.
Tugas:
A. Rumuskan Judul PTK menggunakan Standar A (Ilmiah/Jurnalistik):
B. Rumuskan Judul PTK menggunakan Standar B (Administratif/Kontekstual)

Latihan 3

Masalah: Kurangnya partisipasi dan keaktifan siswa dalam diskusi materi Etika Pelayanan di gereja.
Rencana Tindakan: Menerapkan Metode Group Investigation.
Subyek: Siswa Kelas XI SMA.
Lokasi: SMA Swasta Kristen Budi Mulia, Tahun 2025.
Tugas:
A. Rumuskan Judul PTK menggunakan Standar A (Ilmiah/Jurnalistik):
B. Rumuskan Judul PTK menggunakan Standar B (Administratif/Kontekstual)

Latihan 4

Masalah: Rendahnya sikap toleransi dan penghargaan terhadap keragaman di lingkungan sekolah.
Rencana Tindakan: Menggunakan Metode Simulasi Kasus Lintas Budaya.
Subyek: Siswa Kelas VII SMP.
Lokasi: SMP Negeri 10 Tenggarong.
Tugas:
A. Rumuskan Judul PTK menggunakan Standar A (Ilmiah/Jurnalistik):
B. Rumuskan Judul PTK menggunakan Standar B (Administratif/Kontekstual)

Latihan 5

Masalah: Kurangnya kedisiplinan dan ketenangan siswa dalam doa bersama dan ibadah pagi.
Rencana Tindakan: Menerapkan Sistem Reward Berbasis Poin dan Stiker Keagamaan yang jelas dan konsisten.
Subyek: Siswa Kelas I SD.
Lokasi: SD Filadelfia, Semester Genap 2026.
Tugas:
A. Rumuskan Judul PTK menggunakan Standar A (Ilmiah/Jurnalistik):
B. Rumuskan Judul PTK menggunakan Standar B (Administratif/Kontekstual)

Latihan 6

Masalah: Rendahnya hasil belajar kognitif siswa pada materi konsep Dosa dan Pengampunan.
Rencana Tindakan: Menggunakan Model Pembelajaran Visual, Auditory, Kinesthetic (VAK) dengan media studi kasus visual.
Subyek: Siswa Kelas VIII SMP.
Lokasi: SMP Kristen Eben Haezer Banjarmasin.
Tugas:
A. Rumuskan Judul PTK menggunakan Standar A (Ilmiah/Jurnalistik):
B. Rumuskan Judul PTK menggunakan Standar B (Administratif/Kontekstual)

Latihan Menguraikan Judul

Latihan 7

Judul: Peningkatan Keterampilan Komunikasi Lisan dan Presentasi Etika Kristen melalui Model Flipped Classroom dengan Penugasan Vlog Refleksi pada Siswa Kelas XII SMA Negeri 3 Pontianak.
Tugas: Menguraikan Judul
Masalah:
Rencana Tindakan:
Subyek:
Lokasi:

Latihan 8

Judul: Peningkatan Minat Membaca dan Menggali Kitab Suci Secara Mandiri melalui Pemanfaatan Aplikasi Alkitab Digital Berbasis Proyek pada Siswa Kelas X SMK Pariwisata Harapan Baru.
Tugas: Menguraikan Judul
Masalah:
Rencana Tindakan:
Subyek:
Lokasi:

Latihan 9

Judul: Peningkatan Pemahaman Siswa terhadap Konsep Eskatologi melalui Strategi Concept Mapping dengan Bantuan Media Infografis pada Siswa Kelas XI SMA Kristen Sion Makassar.
Tugas: Menguraikan Judul
Masalah:
Rencana Tindakan:
Subyek:
Lokasi:

Latihan 10

Judul: Peningkatan Keterampilan Menghafal Ayat Emas Mingguan melalui Penerapan Singing Method (Metode Bernyanyi) pada Siswa Kelas IV SD Negeri 01 Samarinda.
Tugas: Menguraikan Judul
Masalah:
Rencana Tindakan:
Subyek:
Lokasi:

Latihan 11

Judul: Peningkatan Keterlibatan Aktif Siswa dalam Pembelajaran melalui Penerapan Model Think-Pair-Share (TPS) pada Siswa Kelas VII SMP Swasta Bintang Timur.
Tugas: Menguraikan Judul
Masalah:
Rencana Tindakan:
Subyek:
Lokasi:

Latihan 12

Judul: Peningkatan Kualitas dan Objektivitas Penilaian Proyek Tokoh Iman melalui Penerapan Rubrik Penilaian Terstruktur pada Siswa Kelas XI SMK Kesehatan Mandala.
Tugas: Menguraikan Judul
Masalah:
Rencana Tindakan:
Subyek:
Lokasi:

Tugas Terstruktur (TT) 1
  • Membandingkan Bab 1 dari 3 Skripsi PTK yang berbeda di STT Kalimantan dari Dosen Pembimbing yang berbeda.
  • Menulis Jurnal Refleksi Diri tentang dua masalah terbesar dalam mengajar PAK yang pernah dihadapi.
Tugas Mandiri (TM) 1

Silakan memilih satu dari enam tugas mandiri berikut,

  • Analisis Masalah Pendidikan: Teliti satu isu pendidikan yang relevan, seperti rendahnya minat belajar siswa. Kumpulkan informasi dari artikel atau laporan, lalu rumuskan masalah penelitian yang dapat diangkat dari isu tersebut.
  • Studi Literatur tentang PTK: Lakukan studi literatur mengenai berbagai jenis masalah yang sering dihadapi dalam pendidikan. Buat ringkasan dan rumuskan beberapa fokus penelitian berdasarkan temuan dari studi tersebut.
  • Wawancara Guru: Wawancarai seorang guru (atau beberapa guru) yang berpengalaman mengenai tantangan yang mereka hadapi dalam mengajar. Identifikasi masalah yang mereka sebutkan dan rumuskan masalah penelitian berdasarkan wawancara tersebut.
  • Analisis Judul PTK: Pilih tiga judul PTK yang berbeda dari berbagai sumber. Analisis fokus, tujuan, dan masalah penelitian yang ada di masing-masing judul, kemudian rumuskan satu masalah penelitian yang dapat diambil dari analisis tersebut.
  • Simulasi Pengajaran: Buat rencana pengajaran untuk sebuah topik yang Anda pilih. Identifikasi potensial masalah yang mungkin muncul selama proses pengajaran dan rumuskan masalah penelitian berdasarkan rencana tersebut.
  • Refleksi Diri tentang Pembelajaran: Tulis refleksi tentang pengalaman belajar Anda dalam mata kuliah ini sejauh ini. Identifikasi dua aspek yang paling menantang dan rumuskan masalah penelitian yang dapat dieksplorasi lebih lanjut.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top