PPPB1 – Pertemuan 6 (Kisah Para Rasul Bagian Pertama) – Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

PPPB1 – Pertemuan 6 (Kisah Para Rasul Bagian Pertama)

Selamat datang kembali {display_name}, selamat mempelajari tentang:

Kisah Para Rasul (Bagian Pertama)

Penulis Kisah Para Rasul

Kitab Kisah Para Rasul merupakan bagian penting dalam Perjanjian Baru yang menyajikan narasi sejarah perkembangan iman Kristen setelah kebangkitan Yesus Kristus. Kitab ini berfungsi sebagai kelanjutan dari Injil Lukas dan memiliki karakteristik sebuah karya naratif-historis dengan tujuan memberi gambaran rinci tentang pendirian gereja mula-mula dan penyebaran Injil dari Yerusalem ke Roma. Penulis tradisional kitab ini adalah Lukas, seorang tabib berpendidikan Yunani yang bukan saksi mata langsung terhadap kehidupan Yesus, tetapi merangkai catatannya berdasarkan penyelidikan pribadi dan wawancara dengan saksi-saksi mata serta sumber terpercaya, seperti dikatakan di Lukas 1:3-4. 1
Para sarjana modern umumnya menerima bahwa pengarang Injil Lukas dan Kisah Para Rasul adalah orang yang sama, ditandai oleh kesamaan gaya bahasa, tema, serta penggunaan istilah medis yang menunjukkan latar belakang sebagai dokter. Selain itu, struktur prolog di Kisah Para Rasul (Kisah 1:1-2) memberikan indikasi jelas bahwa penulis ramahnya ditujukan kepada Teofilus, sosok yang kemungkinan adalah pejabat Romawi atau orang terhormat yang didedikasikan untuk memperdalam pemahamannya tentang iman Kristen. 2
Diskusi akademis menyangkut kepengarangan dan tujuan penulisan Kisah Para Rasul cukup kaya. Banyak ahli, seperti F.F. Bruce dan Richard Bauckham, menegaskan bahwa Lukas menulis kitab ini dengan niat teologis dan historis, menggarisbawahi peran Roh Kudus dalam perkembangan gereja dan misi universal kepada orang bukan Yahudi. 3   Sementara itu, ada juga perdebatan terkait keaslian narasi “kami” yang muncul beberapa kali dalam teks sebagai tanda bahwa sang penulis mungkin adalah rekan perjalanan Paulus, walau ada pendapat yang mempertanyakan apakah itu benar-benar catatan autobiografi atau teknik narasi sastra. 4
Selain itu, pertanyaan mengenai latar belakang Lukas sebagai bukan Yahudi dan pendidikannya yang tinggi di dunia Yunani memperkaya pemahaman bagaimana Kisah Para Rasul dirancang untuk menghubungkan berbagai budaya dan kelompok, dari komunitas Yahudi hingga bangsa-bangsa lain, demi menyampaikan pesan keselamatan secara global. 5
Kisah Para Rasul adalah narasi sejarah yang tertata dengan baik, yang tidak hanya merekam fakta-fakta masa awal gereja, tetapi juga menampilkan teologi perkembangan iman Kristen dan pekerjaan Roh Kudus, serta mengajak pembacanya — dari Teofilus sampai generasi sekarang — untuk memahami proses penyebaran Injil dalam konteks budaya dan sejarah masa itu.

Tujuan Penulisan Kisah Para Rasul

Tujuan utama Lukas dalam menulis Kitab Kisah Para Rasul adalah menyajikan catatan yang teratur dan andal mengenai kelanjutan karya Yesus melalui Roh Kudus dalam kehidupan para rasul setelah kenaikan-Nya ke surga. Lukas ingin menekankan bahwa pelayanan Yesus di Yerusalem tidak berhenti setelah kenaikan-Nya, melainkan berlanjut dan meluas menjadi gerakan global yang didorong oleh kuasa Roh Kudus, sebagaimana dinyatakan dalam Kisah 1:8.
Kitab ini secara efektif menjembatani Injil dengan surat-surat Paulus dan surat-surat umum dalam Perjanjian Baru. Peralihan fokus dari pelayanan Yesus di Palestina menuju penyebaran Injil di seluruh Kekaisaran Romawi menjadi inti narasi, menunjukkan bagaimana gereja mula-mula berkembang dan menyebar ke berbagai wilayah budaya dan etnis di luar dunia Yahudi.
Menurut para sarjana seperti F.F. Bruce, Lukas menulis dengan tujuan teologis sekaligus historis, berupaya meyakinkan pembaca akan legitimasi dan kemajuan gereja melalui bimbingan Roh Kudus dan kehadiran kuasa ilahi yang nyata dalam pemberitaan Injil. 6   Sementara itu, Luke Timothy Johnson menekankan pentingnya narasi ini sebagai penghubung antara peran Yesus dan karya para rasul yang mewartakan Injil kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi, menegaskan pergeseran misi dari komunitas Yahudi ke komunitas lintas budaya yang luas. 7
Di sisi lain, karya Bartolomeus Diaz Nainggolan menyoroti bagaimana Lukas secara khusus ingin menampilkan perjalanan geografis dan spiritual penyebaran Injil dari Yerusalem sampai ke Roma, dengan Roh Kudus sebagai motor penggerak yang memperkuat jemaat dalam menghadapi tantangan dan penganiayaan. 8   Nainggolan juga menegaskan bahwa Kisah Para Rasul bukan hanya catatan sejarah literal, melainkan penafsiran teologis yang mendalam tentang eksistensi dan ekspansi gereja mula-mula.
Lebih jauh lagi, para ahli lain memperhatikan bahwa tujuan Lukas tidak hanya merekam sejarah gereja dari perspektif empiris, tetapi mengajak pembaca untuk mengalami harapan dan kuasa Allah melalui perantaraan Roh Kudus dalam misi kesaksian. Narasi ini memuat pola baptisan Roh Kudus sebagai persiapan dan kekuatan yang normatif dalam pelayanan gereja, menjadikan Kisah Para Rasul sebagai fondasi penting bagi pemahaman eklesiologi dan pneumatologi Kristen mula-mula. 9
Dengan demikian, Lukas berhasil menghubungkan dimensi historis, teologis, dan misionaris dalam satu kerangka narasi yang teratur dan berdaya guna untuk mendukung pertumbuhan iman dan penghayatan pembaca terhadap kesinambungan pemberitaan Injil.

Tema-tema Utama
Kerajaan Allah dan Kristus: Bingkai Naratif yang Tak Terpisahkan

Hubungan antara Kerajaan Allah dan Yesus Kristus menempati posisi sentral dan menjadi bingkai naratif penting dalam Kitab Kisah Para Rasul. Kitab ini dibuka dengan catatan bahwa Yesus, setelah kebangkitan-Nya, selama empat puluh hari “berbicara tentang Kerajaan Allah” kepada para rasul (Kis 1:3). Penutupan kitab ini juga menegaskan tema yang sama dengan gambaran Rasul Paulus di Roma, yang meskipun dalam tahanan rumah, “dengan berani dan terus terang memberitakan Kerajaan Allah dan mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus” (Kis 28:30-31).

Kesinambungan ini menegaskan bahwa Kerajaan Allah tidak dapat dipisahkan dari pribadi dan karya Kristus. Kerajaan tersebut diresmikan melalui panggilan dan misi Yesus, di mana pesan tentang Kerajaan Allah secara inheren adalah pesan tentang Yesus Kristus sebagai Raja. Para sarjana seperti F.F. Bruce menyatakan bahwa narasi Lukas menunjukkan Kerajaan Allah sebagai realitas yang diaktifkan melalui Yesus dan berlanjut melalui aktivitas para rasul dalam mengembangkan ekklesia yang kohesif dan berpengaruh dalam dunia Romawi yang luas. 10

Lebih jauh, Luke Timothy Johnson memperlihatkan dimensi teologis bahwa Kerajaan Allah yang diwartakan merupakan penggenapan nubuat eskatologis, khususnya Daniel 7:13-14, yang mengungkapkan pemerintahan Anak Manusia atas segala bangsa dan bahasa sebagai pemuncak sejarawi dan kosmik. Lukas merekam ekspansi misi ini dari Yerusalem ke lingkungan kekaisaran sebagai bukti otoritas dan kuasa Kristus yang tidak dapat dibatasi oleh otoritas-otoritas duniawi. 11

Bartolomeus Diaz Nainggolan menyoroti aspek naratif perjalanan geografis dan teologis yang digambarkan Lukas, yang mengaitkan penyebaran Injil dan pengenalan kerajaan ini dari pusat Yahudi ke jantung kekaisaran Romawi, dengan Roh Kudus sebagai penggerak utama yang memastikan kesinambungan kuasa dan otoritas ilahi di tengah tantangan dunia. 12

Craig S. Keener menambahkan bahwa pengajaran mengenai Kerajaan Allah bukan hanya fenomena historis, tetapi juga manifestasi teologis dan spiritual yang memotivasi perilaku para pengikut Kristus dalam konteks sosial mereka, sekaligus menghadirkan dimensi eskatologis yang meneguhkan harapan akan pemulihan akhir dunia. Dengan demikian, kerajaan tersebut hadir secara nyata dan sementara berkembang dalam kehidupan dan pelayanan gereja mula-mula, sebagai kesaksian nyata dari pemerintahan Kristus atas seluruh ciptaan. 13

Lukas melalui narasinya menampilkan Kerajaan Allah yang integral dengan keberadaan dan karya Yesus Kristus, yang menjadi pusat pengajaran dan pelayanan gereja awal, serta menunjukkan penggenapan janji eskatologis yang melibatkan seluruh umat manusia dalam pemerintahan ilahi yang kekal dan tanpa batas.

Kerangka Geografis (Ekklēsia) Berdasarkan Ayat Kunci

Kisah Para Rasul 1:8 menyajikan kerangka naratif dan geografis yang jelas mengenai perluasan gerakan Ekklēsia dalam Kitab Kisah Para Rasul: “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” 14

Pertama, “Yerusalem” mewakili konsolidasi gereja dalam konteks Yudaisme, sebagaimana tercermin dalam Kisah 1–7. Lalu wilayah Yudea dan Samaria melambangkan peralihan dan ekspansi penyebaran Injil melintasi batas etnis dan geografis ke kelompok yang berbeda, sebagaimana diceritakan dalam Kisah 8–12. Dan akhirnya, Kisah 13–28 menggambarkan perjalanan misi Paulus sampai ke “ujung bumi” yang dipahami sebagai Roma, pusat Kekaisaran Romawi, menandai misi universal dan lintas budaya. 15 Para sarjana menegaskan bahwa ayat ini bukan hanya janji rohani, melainkan peta misi dengan signifikansi geografis dan etnis. Thomas S. Moore meneliti latar belakang Isaianik frasa “sampai ke ujung bumi” yang menyatakan universalitas misi, merujuk pada konteks Daniel dan Lukas 24:47. 16 P.B. Smit menambahkan bahwa pembagian geografis dalam ayat ini dapat dipahami sebagai “peta dunia imajiner” yang menghubungkan Yerusalem sebagai pusat dengan seluruh dunia sebagai batas eksternal, yang berisi makna imperial dan teologis. 17

Frasa “Kamulah saksi-saksi-Ku” (ἔσεσθέ μου μάρτυρες) menunjukkan klaim ilahi Yesus, karena dalam Perjanjian Lama hanya YHWH yang memiliki saksi-saksi-Nya (Yesaya 43:12), menjadikan para rasul perpanjangan otoritas ilahi-Nya. Selanjutnya, Kelly O. Onongha melihat ayat ini sebagai paradigma misi yang menyeluruh, dari pusat Yerusalem ke ujung dunia, sebagai tuntutan misi lintas budaya yang relevan bahkan untuk gereja masa kini. 18

Kerangka geografis Kisah Para Rasul 1:8 tidak semata peta literal melainkan juga konstruksi naratif-teologis soal jangkauan dan kuasa Kerajaan Allah yang universal dan tak terbatas.

Pentakosta: Pemberdayaan dan Ekspansi Misi Global

Pentakosta adalah titik balik utama dalam Kisah Para Rasul, yang dicatat dalam pasal 2 dan terjadi 50 hari setelah Kebangkitan Yesus. Peristiwa ini menandai penggenapan janji Yesus mengenai pemberdayaan Roh Kudus setelah kebangkitan-Nya (Kis 1:4-5), sekaligus menggenapi nubuat Nabi Yoel (Yoel 2:28-32) yang menjanjikan pencurahan Roh Kudus kepada umat perjanjian Allah, yakni Israel. Dalam konteks Perjanjian Lama, Israel sendiri disebut sebagai ekklēsia (dalam Septuaginta, istilah ini merujuk pada Israel sebagai ekklēsia sekitar enam puluh delapan kali), menandai kesatuan umat yang dipanggil dalam perjanjian Allah.
Peristiwa Pentakosta ini unik karena Roh Kudus dicurahkan dengan tanda-tanda luar biasa seperti bunyi angin keras dan lidah-lidah api yang hinggap pada masing-masing murid. Tanda-tanda ini secara teologis melambangkan dynamis, yaitu kuasa ilahi yang memberdayakan dan kehadiran nyata Allah dalam memperlengkapi para murid-Nya untuk misi global. Pencurahan Roh Kudus ini tidak menciptakan ekklēsia sebagai institusi baru, tetapi mentransformasi perkumpulan pengikut Kristus menjadi saksi berani dan efektif dalam memberitakan Kerajaan Allah ke seluruh dunia.
Konsep “Sisa Israel” (Remnant) sangat relevan dalam konteks ini. Perjanjian Lama mengajarkan bahwa sisa umat Allah adalah kelompok yang setia dan diselamatkan (Yesaya 10:20; Yeremia 31:7), dan Paulus menegaskan bahwa sisa ini diselamatkan berdasarkan kasih karunia Allah (Roma 9:27; 11:5). Pentakosta merupakan peresmian publik dari umat Allah yang diperlengkapi dan diotorisasi untuk melaksanakan Amanat Agung (Mat 28:18-20). Dengan kuasa Roh Kudus, murid-murid yang semula ketakutan diubah menjadi saksi-saksi yang berani dan mewartakan Kerajaan Allah dengan kuasa yang jelas.
Dalam khotbahnya yang penuh semangat, Petrus secara eksplisit mengutip nubuat Yoel 2, menegaskan bahwa peristiwa pencurahan Roh Kudus itu adalah penggenapan janji Ilahi kepada umat-Nya. Pentakosta menegaskan misi global gereja bukan hanya sebagai warisan historis, tetapi juga sebagai panggilan berkelanjutan bagi setiap generasi untuk membawa Injil ke segala bangsa dengan kuasa Roh Kudus.
Para sarjana menyambut Pentakosta sebagai transformasi teologis dan strategis dalam misi gereja mula-mula. Craig Keener menegaskan bahwa fenomena linguistik dalam Kisah Para Rasul 2 adalah momen penting bagi komunikasi lintas bahasa dan budaya, membuka jalan bagi penyebaran Injil secara global. 19 Bill Menzies menelusuri akar historis dan teologis Pentakosta yang menjadi cikal bakal gerakan Pentakosta modern, menekankan pengalaman karunia-karunia Roh Kudus dan pembaruan rohani sebagai inti gereja mula-mula. 20
Pentakosta merupakan pemberdayaan Roh Kudus yang memegang peranan sentral dalam ekspansi misi global Kekristenan, mengubah komunitas murid-murid Yesus menjadi komunitas misi yang berani, dan berpusat pada pengalaman ilahi dalam membagikan kabar keselamatan.

Karakteristik Komunitas: Persekutuan yang Radikal

Dampak langsung dari Peristiwa Pentakosta pada komunitas percaya mula-mula di Yerusalem sangat jelas terlihat dalam Kisah Para Rasul 2:42-47 dan 4:32-35, yang menggambarkan suatu model persekutuan (koinonia) yang radikal dan menjadi fondasi kehidupan gereja awal. Para pengikut Yesus membangun komunitas yang ditandai oleh pengabdian terhadap empat pilar utama: pengajaran rasul-rasul (ἡ διδαχη τῶν ἀποστόλων), persekutuan (ἡ κοινωνία), pemecahan roti (ἡ κλάση τοῦ ἄρτου), dan doa-doa (αἱ πρόσευχαι). 21

Para sarjana memperhatikan bahwa unsur-unsur ini bukan hanya ritual atau kebiasaan, melainkan ekspresi nyata dari kehidupan yang berpusat pada Kristus dengan penekanan kuat pada solidaritas dan hidup bersama secara sosial dan spiritual. Kehidupan yang ditandai kesatuan hati dan jiwa ini juga diwujudkan melalui praktik menjual harta benda dan membagikannya kepada yang berkekurangan—sebuah solidaritas sosial yang luar biasa dan radikal di tengah masyarakat yang sangat stratifikasi sosial waktu itu. 22

Sebagai contoh, Richard Bauckham mengamati bahwa ciri “kepemilikan bersama” ini tidak hanya mencerminkan idealisme komunitas, melainkan manifestasi dari penghormatan terhadap nilai-nilai persaudaraan dan pertolongan bagi yang membutuhkan, yang berakar pada ajaran Yesus dan semangat Roh Kudus yang menyatukan. 23

Sementara itu, Luke Timothy Johnson menegaskan bahwa koinonia di sini adalah dasar teologis penting yang menghubungkan keselamatan pribadi dengan tanggung jawab bersama; gereja mula-mula sebagai tubuh Kristus menghidupi panggilan kolektif untuk saling menopang dan mengasihi dengan kemurahan hati yang nyata. 24

Diskursus lain yang menarik adalah tentang “pemecahan roti” yang oleh beberapa scholar dipahami juga sebagai pemberian makan komunal serta penghayatan Perjamuan Kudus dalam konteks rumah tangga para percaya. 25 Rumusan ini memperlihatkan keterikatan erat antara persekutuan rohani dan praktek sosial nyata di antara umat. 26

Pertumbuhan komunitas ini pun tercatat berlangsung terus-menerus, berkat sikap hidup mereka yang sukacita, rendah hati, dan mudah bersyukur, yang menarik hati banyak orang sehingga membawa pertambahan jumlah jemaat secara signifikan. 27

Komunitas awal ini merupakan model radikal dan autentik dalam hal kebersamaan spiritual dan sosial, suatu teladan yang menjadi bahan kajian dan inspirasi bagi banyak gereja dan teolog hingga kini.

Catatan kaki

1 F. F. Bruce, The Book of Acts: The English Text with Introduction, Exposition and Notes (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1988), 21-22
2 Richard Bauckham, The Testimony of the Beloved Disciple: Narrative, History, and Theology in the Gospel of John (Baylor University Press, 2006), 15-17
3 Luke Timothy Johnson, The Writings of the New Testament: An Interpretation (Minneapolis, MN: Fortress Press, 1999), 84-86
4 Michael D. Goulder, Acts: A Commentary (SCM Press, 1994), 43-45
5 Craig S. Keener, The Acts of the Apostles: A Socio-Rhetorical Commentary (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 2012), 10-12
6 Bruce, The Book of Acts, 72-75
7 Johnson, The Writings of the New Testament, 205-10
8 Bartolomeus Diaz Nainggolan, “Penafsiran Kisah Para Rasul 1:8 Dan Implementasi Misi Pemberitaan Injil Lintas Budaya,” Jurnal Koinonia 6, no. 2 (November 2013): 24–29.
9 Keener, The Acts of the Apostles: A Socio-Rhetorical Commentary, 98-104
10 Bruce, The Book of Acts, 90-95.
11 Johnson, The Writings of the New Testament, 220-5.
12 Nainggolan, “Penafsiran Kisah Para Rasul 1:8 Dan Implementasi Misi Pemberitaan Injil Lintas Budaya.”
13 Keener, The Acts of the Apostles: A Socio-Rhetorical Commentary, 115-20.
14 Thomas S. Moore, “To The End of The Earth: The Geograhical and Ethnic Universalism of Acts 1:8 in Light of Isaianic Influence on Luke,” Journal of the Evangelical Theological Society, To The End of The Earth, vol. 40, no. 3 (1997): 389–99, https://etsjets.org/wp-content/uploads/2010/07/files_JETS-PDFs_40_40-3_40-3-pp389-399_JETS.pdf.

15 P. B. Smit, “Negotiating a New World View in Acts 1.8? A Note on the Expression,” New Testament Studies 63, no. 1 (2017): 56–62, https://www.cambridge.org/core/journals/new-testament-studies/article/negotiating-a-new-world-view-in-acts-18-a-note-on-the-expression/6BD859A1B6218C5A9AAEEE6221B0732F, 56.

16 Moore, “To The End of The Earth” 392-3.

17 Smit, “Negotiating a New World View in Acts 1.8? A Note on the Expression.” 59-60.

18 Kelly O. Onongha, “Acts 1:8—A Paradigm for Mission in West-Central Africa,” Journal of African Missions Studies 5, no. 1 (2009): 44–50, https://digitalcommons.andrews.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1058&context=jams.
19 19 Craig S. Keener, The Acts of the Apostles, 98-104.
20 20 Bill Menzies, “Pentecostalism,” dalam Encyclopedia of Christianity, ed. Erwin Fahlbusch (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 2003), 1118-24.
21 . Craig S. Keener, The Acts of the Apostles, 104-8.

22 . Richard Bauckham, Gospel Women: Studies of the Named Women in the Gospels (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 2002), 45-50.

23 . Luke Timothy Johnson, The Writings of the New Testament, 212-5.

24 . Ibid., 217-20.

25 . F.F. Bruce, The Book of Acts, 65-70.

20 26 . Ibid., 71-75.

20 27 . Hans Conzelmann, Acts of the Apostles: A Commentary on the Book of Acts (Philadelphia, PA: Fortress Press, 1987), 38-42.

Tugas Terstruktur (120 menit)
  1. Tugas Menyusun Garis Besar Kitab Kisah Para Rasul: Kumpulkan garis besar Kitab Kisah Para Rasul dari minimal 5 sumber berbeda (buku, internet, aplikasi Alkitab Android). Setelah itu, susunlah garis besar pribadi Anda untuk Kitab Kisah Para Rasul berdasarkan pemahaman dan analisis Anda sendiri. Tugas dikumpulkan pada Pertemuan 11.
  2. Meringkas buku Satu Injil Tiga Pekabar, Karya B. F. Drewes: Buatlah ringkasan buku Satu Injil Tiga Pekabar Bab 5. Tugas dikumpulkan pada Pertemuan 7.
  3. Buatlah makalah mendalam tentang kelompok-kelompok kunci dalam Yudaisme abad pertama yang berinteraksi dengan Yesus dan gereja mula-mula: Farisi, Saduki, Zelot, Ahli-ahli Taurat, Kelompok Herodian dan Diaspora. Makalah harus mencakup,
  • Sejarah kemunculan dan perkembangan masing-masing kelompok.
  • Kepercayaan/ideologi utama dan praktik-praktik keagamaan atau politik mereka.
  • Peran dalam masyarakat Yahudi pada abad pertama.
  • Bagaimana mereka berinteraksi dengan Yesus (pandangan mereka tentang Yesus, konflik, atau dukungan).
  • Relevansi atau dampak mereka terhadap gerakan Kekristenan awal.

Catatan:

  1. Panjang Makalah: Minimal 8 halaman (tidak termasuk halaman judul, daftar isi, dan daftar pustaka).
  2. Format: Font Times New Roman 12, spasi 1.5, margin standar.
  3. Sitasi & Kepustakaan: Wajib menggunakan catatan kaki (footnotes) dan Kepustakaan (bibliography) yang dikelola dengan aplikasi referensi seperti Zotero atau Mendeley.
  4. Makalah dikumpulkan saat Ujian Akhir Semester.
  5. Pada tahap ini, teruslah membaca dan mencatat kutipan-kutipan dari sumber-sumber (buku, website, blog atau jurnal) tentang kelompok Yudaisme yang telah ditentukan.
Tugas Mandiri (120 menit)

• Membaca Injil Matius secara keseluruhan.
• Menulis refleksi di Journalit terhadap pertemuan ini.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top