PPPB1 – Pertemuan 2 (Injil Markus) – Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

PPPB1 – Pertemuan 2 (Injil Markus)

Pertemuan 2

Injil Markus: Injil Tertua & Dinamis

[collapsible title=”Latar Belakang dan Konteks”]

Injil Markus, meskipun merupakan yang terpendek di antara keempat Injil dalam Perjanjian Baru, memiliki signifikansi yang sangat besar sebagai narasi Injil tertua yang dikenal oleh tradisi Kristen.[1]  Penelitian kritis dan kajian sejarah Alkitab menunjukkan bahwa Markus kemungkinan besar ditulis pada akhir abad pertama, antara tahun 65 hingga 75 Masehi, ketika komunitas Kristen menghadapi penganiayaan dan tekanan eksternal yang kuat.[2]

Penelitian kritis dan kajian sejarah Alkitab menunjukkan bahwa Markus kemungkinan besar ditulis pada akhir abad pertama, antara tahun 55 hingga 60 Masehi, ketika komunitas Kristen menghadapi penganiayaan dan tekanan eksternal yang kuat.[1]  Jika Kitab Kisah Para Rasul, sebagai volume kedua karya Lukas, ditulis sebelum kematian Paulus dan penganiayaan besar di bawah Kaisar Nero (sekitar tahun 64-65 Masehi), maka Injil Lukas (volume pertama) harus diselesaikan sebelum itu. Karena konsensus akademik menunjukkan bahwa Injil Lukas menggunakan Injil Markus sebagai salah satu sumber utamanya, maka Injil Markus harus menjadi kitab Injil pertama yang ditulis. Urutan kronologisnya menjadi sebagai berikut,

Markus → Lukas → Kisah Para Rasul

Oleh karena itu, jika Kisah Para Rasul selesai pada tahun 63 Masehi, Injil Lukas harus ditulis sekitar tahun 60-62 Masehi, dan Injil Markus harus ditulis sebelum itu, yaitu sekitar tahun 55-60 Masehi. Pandangan ini juga sejalan dengan tradisi gereja mula-mula yang meyakini bahwa Injil Markus adalah catatan dari ajaran-ajaran Rasul Petrus di Roma, dan Injil tersebut ditulis di sana sebelum Petrus mati syahid, yang diperkirakan terjadi pada pertengahan 60-an Masehi. Keaslian Injil ini sebagai sumber paling awal memberikan nilai historis dan teologis yang penting, menjadikannya referensi utama bagi pemahaman awal tentang kehidupan dan karya Yesus Kristus. Keaslian Injil ini sebagai sumber paling awal memberikan nilai historis dan teologis yang penting, menjadikannya referensi utama bagi pemahaman awal tentang kehidupan dan karya Yesus Kristus.

Sebagai Injil pertama yang disusun, Markus bukan hanya menjadi teks teologis mandiri, tetapi juga fondasi naratif yang digunakan oleh Injil Matius dan Lukas dalam menyusun karya mereka.[3]  Para ahli Alkitab menyebut Matius dan Lukas menggunakan Markus sebagai sumber utama mereka, mengadaptasi dan memperluas narasi serta ajaran yang sudah dipaparkan dalam Injil Markus.[4]  Dengan demikian, keberadaan Markus menjadi sangat krusial untuk memahami perkembangan tradisi tulisan Injil dan bagaimana cerita-cerita tentang Yesus disampaikan dan diterima di dalam gereja mula-mula.

Gaya penulisan Markus sangat khas: lugas, padat, dan penuh dengan ketegangan dramatis yang menciptakan rasa urgensi sepanjang narasi.[5] Pendekatan ini mencerminkan konteks historis di masa penulisannya, ketika para pembaca awal mungkin merasakan ketidakpastian dan tekanan sosial yang intens. Pendekatan naratif yang cepat dan tidak bertele-tele ini membuat pembaca terus terlibat dan mengarahkan perhatian pada tindakan dan mukjizat Yesus serta konflik yang dihadapinya selama pelayanan-Nya.[6] Dengan gaya tersebut, Injil Markus menegaskan pesan teologis tentang Kerajaan Allah yang hadir dan datang dengan segera, serta panggilan untuk menyambut dan mengikuti Yesus dalam situasi dunia yang penuh tantangan.


[/collapsible]
[collapsible title=”Penulis dan Audiens Injil Markus”]

Secara tradisional, penulis Injil Markus diyakini adalah Yohanes Markus.[7] Tradisi juga mengaitkannya dengan Rasul Petrus, di mana Papias, seorang Bapa Gereja awal, menyebut bahwa Markus adalah “juru bahasa” (ἑρμηνευτής) Petrus dan mencatat ajarannya.[8] Kesaksian Papias ini menjadi landasan kuat bagi pandangan tradisional bahwa Injil Markus mencerminkan kesaksian mata dari Petrus.

Meskipun tradisi kuat, diskusi akademis modern memberikan beberapa sudut pandang lain. Beberapa sarjana, seperti C. E. B. Cranfield dan R. T. France, berpendapat bahwa kesaksian Papias cukup andal dan mendukung tradisi gereja. Mereka menunjuk pada detail-detail dalam Injil Markus yang tampak seperti kenangan mata dari saksi.[9]


[/collapsible]
[collapsible title=”Kehadiran Markus Sendiri dalam Injilnya”]

Ada spekulasi menarik di antara beberapa sarjana bahwa Yohanes Markus mungkin secara halus memasukkan dirinya ke dalam narasi Injilnya sendiri. Teori ini didasarkan pada dua bagian Injil yang unik bagi Markus, yang tidak ditemukan dalam Injil-injil lain,

Markus 14:51-52: Bagian ini menceritakan tentang seorang pemuda yang melarikan diri dari penangkapan Yesus. Ia hanya mengenakan kain linen dan ketika prajurit mencoba menangkapnya, ia meninggalkan kainnya dan melarikan diri dalam keadaan telanjang. Kisah ini tidak memiliki peran teologis yang jelas dalam narasi penderitaan Yesus. Oleh karena itu, beberapa sarjana, termasuk John Stott, berpendapat bahwa pemuda tersebut adalah Yohanes Markus sendiri yang hadir di Taman Getsemani.[10]

Identifikasi dengan Simon dari Kirene (Markus 15:21): Injil Markus adalah satu-satunya yang menyebutkan nama anak-anak Simon dari Kirene yang memikul salib Yesus, yaitu Aleksander dan Rufus. Beberapa sarjana berpendapat bahwa informasi ini sangat spesifik karena Aleksander dan Rufus adalah sosok yang dikenal oleh audiens Injil Markus di Roma. Bahkan, Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma (Roma 16:13) menyapa “Rufus, orang pilihan dalam Tuhan, dan ibunya, yang juga adalah ibuku.” Mengingat adanya kemungkinan Rufus ini adalah orang yang sama, maka menyebutkan nama anak-anak Simon menjadi cara Markus untuk memperkuat kredibilitas kisahnya di hadapan jemaat Roma, yang mengenal keluarga tersebut.


[/collapsible]
[collapsible title=”Audiens Injil Markus: Kekristenan di Roma”]

Konsensus akademis yang luas adalah bahwa audiens Injil Markus adalah komunitas Kristen non-Yahudi (gentiles) yang tinggal di Roma. Bukti-bukti untuk pandangan ini cukup kuat, seperti penjelasan adat istiadat Yahudi[11]  dan Penggunaan Bahasa Latin dalam teksnya. Fokus Injil ini pada penderitaan Yesus sangat relevan bagi audiensnya yang dianiaya di bawah pemerintahan Kaisar Nero. Pandangan ini didukung oleh sarjana seperti Donald A. Hagner yang melihat Injil Markus sebagai “Injil dari Salib,” yang berusaha memperkuat iman jemaat yang menderita.[12]


[/collapsible]
[collapsible title=”Tujuan dan Tema Utama”]

Ayat Markus 10:45 berfungsi sebagai kunci teologis yang membuka makna seluruh Injil.[13] Yesus menyatakan, “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Pernyataan ini muncul sebagai respons terhadap ambisi dua murid-Nya, Yakobus dan Yohanes, yang menginginkan posisi terhormat. Alih-alih mengoreksi ambisi mereka dengan janji kekuasaan, Yesus justru memutarbalikkan pemahaman mereka sepenuhnya. Ia menegaskan bahwa misi-Nya—dan misi pengikut-Nya—berbeda dari pandangan duniawi tentang kekuasaan dan kemuliaan. Pernyataan ini terbagi menjadi dua bagian utama: melayani dan menebus. Kedua frasa ini menjadi poros di mana seluruh narasi Injil Markus berputar.

Anak Manusia sebagai Hamba yang Melayani dan Menderita

Gelar “Anak Manusia” yang Yesus gunakan memiliki makna ganda. Secara historis, gelar ini berasal dari Daniel 7:13-14, di mana “seorang seperti anak manusia” datang dengan awan-awan surga untuk menerima kekuasaan, kemuliaan, dan kerajaan yang kekal. Pada masa Yesus, banyak orang Yahudi menafsirkan gelar ini sebagai figur Mesias yang agung, berkuasa, dan menaklukkan. Namun, Yesus secara radikal menafsirkan ulang gelar ini. Ia menghubungkan identitas Anak Manusia tidak dengan dominasi politik, melainkan dengan kerendahan hati, penderitaan, dan pelayanan.[14] Melalui frasa “bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani,” Yesus memutarbalikkan semua ekspektasi populer. Ia adalah Anak Manusia yang berkuasa, tetapi kekuasaan-Nya diwujudkan melalui pelayanan, bukan penghambaan. Ini adalah reinterpretasi yang mengejutkan yang membentuk inti Injil.


[/collapsible]
[collapsible title=”Struktur Injil Markus: Dua Bagian yang Saling Melengkapi”]

Injil Markus memiliki struktur naratif yang unik, terbagi menjadi dua bagian utama yang dipusatkan pada ayat Markus 10:45.

Bukan untuk Dilayani, Melainkan untuk Melayani (Markus 1:1-10:44)

Bagian pertama Injil Markus menggambarkan pelayanan Yesus di Galilea. Meskipun Yesus melakukan banyak mukjizat yang menunjukkan kuasa ilahi-Nya sebagai Anak Allah, narasi Markus selalu mengarahkan pembaca untuk melihat semua tindakan itu sebagai pelayanan yang rendah hati. Yesus mengajar dengan otoritas (Markus 1:22), tetapi Ia juga menyentuh orang kusta (Markus 1:41), berinteraksi dengan orang-orang buangan (Markus 2:15-17), dan menyentuh anak-anak (Markus 10:13-16). Pada bagian ini, para murid berulang kali gagal memahami misi-Nya. Mereka berdebat tentang siapa yang terbesar (Markus 9:33-34) dan mencari posisi terhormat, yang memicu pernyataan sentral di Markus 10:45. Markus secara sistematis membangun narasi untuk menunjukkan bahwa pemahaman murid-murid tentang Mesias berlawanan dengan realitas Anak Manusia yang melayani.

Memberikan Nyawa-Nya Sebagai Tebusan (Markus 10:46-16:20)

Bagian kedua Injil Markus dimulai setelah pernyataan Markus 10:45, dengan narasi yang bergeser ke Yerusalem dan fokus pada jalan penderitaan dan pengorbanan. Bagian “memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan” adalah puncak dari pelayanan Yesus. Kematian-Nya di kayu salib bukanlah sebuah kegagalan, melainkan tindakan pelayanan yang tertinggi. Ini adalah puncak dari misi Anak Manusia. Di Yerusalem, semua peristiwa—mulai dari perjamuan terakhir hingga penyaliban—digambarkan sebagai pemenuhan nubuat yang telah Ia ajarkan sebelumnya. Kematian-Nya di kayu salib adalah tindakan penebusan yang disengaja, di mana Ia memberikan diri-Nya untuk membebaskan umat manusia dari dosa. Dengan demikian, Markus 10:45 tidak hanya menjelaskan misi Yesus, tetapi juga menjadi poros yang menghubungkan pelayanan-Nya di Galilea dengan penderitaan dan kematian-Nya di Yerusalem. Seluruh Injil Markus adalah narasi yang dirancang untuk membuktikan kebenaran pernyataan sentral ini.

Penggenapan Nubuat dalam Diri Yesus dan Melalui Gereja

Penggenapan Daniel 7:13-14 tidak terjadi saat Yesus menaiki takhta politik, melainkan melalui jalan salib dan kebangkitan-Nya. Penggenapan ini terus berlanjut melalui Gereja hingga kini.

Penggenapan dalam Diri Yesus: Ketika Yesus disalibkan, dari perspektif teologis, itu adalah tindakan kekuasaan dan kemuliaan tertinggi. Yesus, dengan kematian-Nya menebus manusia, mengalahkan kuasa maut, dan memulihkan hubungan Allah dan manusia. Kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga adalah bukti bahwa Ia adalah Anak Manusia yang berkuasa, yang telah menggenapi janji Daniel—Ia menerima kekuasaan dan kemuliaan dari Yang Lanjut Usianya.

Penggenapan Melalui Gereja: Frasa “segala bangsa mengabdi kepadanya” dari Daniel 7:14 tidak terwujud dalam satu kerajaan politik, tetapi dalam Gereja. Gereja adalah tubuh Kristus, yang terdiri dari orang-orang dari “segala suku, bahasa, bangsa dan kaum.” Gereja, dalam menjalankan misinya, turut mewujudkan nubuat ini dalam tiga cara utama. Pertama, Gereja mewartakan Injil tentang Yesus Kristus, Sang Hamba yang Menderita dan Raja yang telah bangkit. Misi ini melampaui batas geografis dan budaya, menyebarkan berita keselamatan ke seluruh penjuru dunia. Kedua, Gereja dipanggil untuk melayani dan menderita, meneladani sepenuhnya teladan Yesus. Pelayanan bukan hanya dilakukan saat nyaman, tetapi juga saat sulit dan bahkan dalam penganiayaan. Gereja menunjukkan kasih kepada sesama yang terpinggirkan, dan mengorbankan diri demi kebaikan orang lain. Melalui tindakan kasih yang nyata inilah Gereja mencerminkan karakter Kristus. Ketiga, Gereja mengabdi kepada Yesus. Pengabdian ini melampaui batas-batas negara, bahasa, dan budaya, menyatukan orang-orang dari “segala suku, bahasa, bangsa dan kaum” dalam satu persekutuan di bawah kepemimpinan Yesus sebagai Tuhan. Dengan demikian, penggenapan nubuat Daniel 7:13-14 ada di dalam diri Yesus dan berlanjut dalam misi Gereja, yang menjadi alat bagi kekuasaan rohani Anak Manusia untuk menjangkau dan mengumpulkan semua bangsa ke dalam satu persekutuan di bawah kepemimpinan-Nya.

Rahasia Mesianik: Mengapa Yesus Memerintahkan Ketaatan?

Salah satu tema paling menonjol dalam Injil Markus adalah “Rahasia Mesianik”. Ini merujuk pada beberapa perintah Yesus kepada murid-muridnya, roh-roh jahat, dan orang-orang yang disembuhkan untuk tidak memberitahukan identitasnya sebagai Mesias.[15] Markus sengaja menempatkan peristiwa-peristiwa ini di sepanjang narasi untuk menekankan poin teologis yang penting: identitas Mesias Yesus tidak boleh disalahpahami. Orang-orang pada zaman itu memiliki ekspektasi yang keliru tentang Mesias, yang mereka yakini akan menjadi tokoh politik yang berkuasa, mengusir Romawi, dan memulihkan Kerajaan Israel.

Markus menunjukkan bahwa Yesus dengan sengaja menyembunyikan identitasnya di awal pelayanan-Nya untuk menghindari persepsi keliru tersebut. Yesus adalah Mesias, tetapi Mesias yang berbeda dari yang mereka bayangkan. Dia bukan Mesias yang akan naik takhta melalui kekuatan militer, melainkan Mesias yang harus menderita dan mati di kayu salib. Perintah untuk bungkam ini merupakan cara Yesus mengendalikan narasi dan memastikan para pengikutnya tidak mempromosikan citra Mesias yang salah. Hal ini juga menjelaskan mengapa para murid, bahkan setelah menyaksikan kuasa-Nya, masih gagal memahami jalan penderitaan yang harus Ia tempuh, seperti yang terlihat dalam perdebatan mereka tentang siapa yang terbesar (Markus 9:33-34).

[/collapsible]
[collapsible title=”Diskusi tentang ‘Rahasia Mesianik'”]

Konsep “Rahasia Mesianik” pertama kali dipopulerkan oleh sarjana Jerman William Wrede dalam bukunya tahun 1901. Wrede berpendapat bahwa “Rahasia Mesianik” bukanlah bagian dari sejarah Yesus, melainkan sebuah konstruksi teologis yang diciptakan oleh Markus.[16] Menurut Wrede, Yesus tidak pernah menyebut dirinya Mesias, dan komunitas Kristen awal menggunakan tema ini untuk menjelaskan mengapa Yesus tidak diakui sebagai Mesias selama masa hidupnya. Wrede melihatnya sebagai alat literer yang digunakan Markus untuk memperkuat narasi teologisnya.

Meskipun teori Wrede memiliki pengaruh besar, sebagian besar sarjana modern tidak sepenuhnya menerimanya. Mereka berpendapat bahwa Wrede terlalu mengabaikan konteks historis. Mayoritas sarjana kontemporer, seperti C.H. Dodd dan James Dunn, berpendapat bahwa ada dasar historis untuk “rahasia” ini.[17] Mereka percaya bahwa Yesus memang sengaja menghindari gelar Mesias secara terbuka karena konotasi politik dan militer yang melekat pada gelar itu pada zamannya. Dengan demikian, “Rahasia Mesianik” berfungsi sebagai cara Yesus untuk mendefinisikan ulang makna Mesias. Ini adalah alat teologis dan historis. Yesus ingin para pengikutnya memahami bahwa kebangkitan-Nya, bukan kemuliaan duniawi, adalah bukti sejati dari identitas-Nya.

Oleh karena itu, diskusi sarjana modern tentang “Rahasia Mesianik” telah bergeser dari melihatnya sebagai murni fiksi literer menjadi pengakuan bahwa itu adalah strategi historis yang digunakan Yesus untuk mengajar para murid dan audiensnya bahwa jalan penderitaan dan pelayanan adalah jalan sejati seorang Mesias.


[/collapsible]
[collapsible title=”Garis Besar Injil Markus: Yesus sebagai Hamba yang Menderita”]

Pendahuluan: Siapakah Yesus? (1:1-8:30)

  • 1:1-1:13: Permulaan Injil: Identitas Yesus
  • 1:14-3:6: Pelayanan Yesus di Galilea
  • 3:7-6:6a: Yesus dan Dua Kelompok
  • 6:6b-8:26: Misi dan Mukjizat
  • 8:27-30: Pengakuan Petrus: “Engkau adalah Mesias,”
  • 9:1-50: Transfigurasi dan Pengajaran
  • 10:1-44: Pengajaran Menuju Penderitaan

Pusat Narasi: Markus 10:45

  • 10:45: Anak Manusia datang untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Klimaks: Penderitaan dan Kematian Hamba (10:46-16:8)

  • 10:46-11:11: Jalan Menuju Yerusalem
  • 11:12-13:37: Konfrontasi di Yerusalem
  • 14:1-15:47: Kesengsaraan dan Penyaliban
  • 16:1-8: Kebangkitan

[/collapsible]
[collapsible title=”Struktur dan Gaya Penulisan Injil Markus”]

Injil Markus memiliki struktur yang sengaja dirancang oleh penulisnya untuk menyampaikan pesan teologisnya dengan efektif. Daripada sekadar kronologi peristiwa, Injil ini disusun dengan pola naratif yang terbagi menjadi dua bagian besar, yang dipisahkan oleh sebuah titik balik teologis yang krusial.

Bagian pertama, yang mencakup Markus 1:1 hingga 10:44, dapat dipandang sebagai “narasi kuasa” atau “narasi Mesias populer”. Selama periode ini, Markus secara sistematis menyoroti perbuatan-perbuatan kuasa Yesus—menyembuhkan orang sakit, mengusir roh-roh jahat, dan melakukan mukjizat di alam. Setiap bab membangun demonstrasi otoritas ilahi-Nya yang tak terbantahkan.[18] Tujuan dari penyorotan ini adalah untuk membangun kredibilitas Yesus sebagai Anak Allah yang berotoritas, seperti yang Ia tunjukkan melalui ajaran dan tindakan-Nya. Di sisi lain, hal ini juga menggambarkan bagaimana para murid, dan bahkan orang banyak, memahami Yesus sebagai Mesias dengan cara yang dangkal, yaitu hanya sebagai sosok penuh kuasa yang akan memulihkan Israel secara politik.

Ayat Sentral dan Pergeseran Fokus

Titik balik yang memisahkan kedua bagian ini adalah Markus 10:45, yang berbunyi: “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Ayat ini bukan hanya sekadar kalimat penutup dari sebuah diskusi, melainkan merangkum seluruh teologi Markus dan berfungsi sebagai jembatan naratif yang esensial. Dengan mengucapkan kata-kata ini, Yesus secara fundamental mengubah definisi misi-Nya dari sekadar demonstrasi kuasa menjadi jalan pengorbanan.[19] Ayat ini mengakhiri narasi mukjizat dan memulai persiapan untuk penderitaan.

Setelah ayat kunci ini, fokus narasi segera bergeser ke bagian kedua Injil, yang mencakup Markus 10:46 hingga 16:8. Bagian ini dikenal sebagai “narasi penderitaan” atau “narasi Mesias yang menderita”. Markus tidak lagi menekankan mukjizat, melainkan dengan cermat menyusun setiap peristiwa untuk menyoroti kerendahan hati dan kesengsaraan Yesus. Pengajaran Yesus kepada murid-murid-Nya menjadi lebih intens, dan Ia secara berulang-ulang menubuatkan penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya, mengoreksi pandangan para murid yang salah tentang Mesias. Struktur ini mengajarkan sebuah kebenaran teologis yang krusial: Mesias sejati harus menderita. Yesus bukanlah pahlawan politik yang datang untuk menggulingkan Romawi dengan kekuasaan militer. Sebaliknya, Ia adalah Hamba yang akan menderita dan mati.

Struktur Injil Markus telah menjadi subjek diskusi yang intens di kalangan para ahli Perjanjian Baru. Terdapat beberapa pandangan utama mengenai bagaimana Injil ini seharusnya dipahami secara struktural,

Teori Dua Bagian: Pendekatan yang paling umum, yang baru saja kita bahas, melihat Markus sebagai dua bagian utama yang dipisahkan oleh Pengakuan Petrus di Kaisarea Filipi (8:27-30) dan diikuti dengan nubuat penderitaan pertama. Rudolf Bultmann dan Vincent Taylor mempopulerkan pandangan ini, yang menekankan transisi dari pertanyaan “Siapakah Yesus?” menjadi “Apa tujuan pelayanan Yesus?”. Struktur ini menyoroti bahwa pengetahuan akan identitas Yesus tidak lengkap tanpa pemahaman tentang salib.

Teori Tiga Bagian: Beberapa sarjana, seperti John P. Meier, berpendapat bahwa Injil ini lebih baik dipahami dalam tiga bagian, yaitu pelayanan di Galilea (1:1-8:26), perjalanan ke Yerusalem (8:27-10:52), dan pelayanan serta penderitaan di Yerusalem (11:1-16:8). Pandangan ini memberikan penekanan yang lebih besar pada narasi perjalanan, menunjukkan bahwa transisi dari Galilea ke Yerusalem adalah sebuah proses yang bertahap dan bukan hanya satu peristiwa.

Teori Struktur Khusus (Chiasm): Analisis yang lebih rumit melihat adanya pola chiasm dalam Injil Markus, di mana narasi diatur dalam struktur paralel yang berbalik (A-B-C-B’-A’). Beberapa sarjana, seperti J. E. Strawn, berpendapat bahwa bagian tengah dari chiasm ini adalah inti teologis Injil, yaitu bagian-bagian yang berbicara tentang penderitaan dan salib. Struktur ini menunjukkan bahwa Markus sengaja menyusun Injilnya untuk mengarahkan pembaca pada sebuah kesimpulan yang tak terhindarkan: tujuan utama kedatangan Yesus adalah pengorbanan-Nya.[20]

Mengatasi Kesalahpahaman Mesianik: Salah satu tema kunci yang menyatukan seluruh Injil Markus adalah bagaimana Yesus mengatasi ekspektasi Mesias yang salah. William Wrede (abad ke-19) berpendapat bahwa rahasia mesianik bukanlah bagian dari sejarah Yesus yang sebenarnya, melainkan konstruksi teologis yang diciptakan Markus untuk menjelaskan mengapa Yesus tidak dikenal sebagai Mesias di masa pelayanan-Nya. Wrede melihatnya sebagai “senjata literer” Markus untuk mengatasi masalah ini.[21] Namun, pandangan ini ditolak oleh banyak sarjana modern.

Para sarjana seperti N.T. Wright dan Ben Witherington III berargumen bahwa rahasia mesianik adalah strategi historis yang disengaja oleh Yesus untuk mendefinisikan kembali Mesias. Yesus tidak ingin identitas-Nya disalahpahami sebagai Mesias politik yang akan memimpin pemberontakan melawan Roma, yang merupakan harapan populer pada zaman itu. Sebaliknya, Ia secara perlahan-lahan membentuk pemahaman di antara murid-murid-Nya bahwa Mesias sejati harus menderita dan mati. Dengan demikian, rahasia ini berfungsi sebagai sarana pedagogis yang efektif, yang puncaknya adalah pengakuan seorang perwira Romawi di kaki salib, “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!” (Markus 15:39).[22]

Terlepas dari perdebatan di antara para sarjana, semua pendekatan sepakat pada satu hal: struktur Injil Markus bukanlah kebetulan. Penulis Injil ini dengan sengaja membangun narasinya untuk menantang ekspektasi pembaca dan untuk mendefinisikan kembali makna Mesias, yang puncaknya adalah melalui jalan penderitaan dan kematian di salib. Hal ini membuat Injil Markus menjadi karya yang sangat kuat dan relevan, terutama bagi mereka yang bergumul dengan iman di tengah penderitaan.

Gaya Penulisan yang Unik

Gaya penulisan Injil Markus tidak hanya ringkas dan padat, tetapi juga memiliki ciri khas yang sangat disengaja oleh penulisnya untuk menciptakan sebuah narasi yang dinamis dan berdampak. Ciri khas ini membedakannya secara signifikan dari Injil-injil lain.

Salah satu karakteristik yang paling menonjol adalah penggunaan kata εὐθὺς (“segera” atau “dengan segera” dalam bahasa Yunani). Kata ini muncul lebih dari 40 kali dalam Injil Markus, jauh lebih sering daripada di Injil-injil lainnya. Penggunaan yang berulang-ulang ini bukan sekadar kebiasaan penulis, melainkan sebuah strategi literer untuk menciptakan kesan urgensi dan tindakan yang cepat. Narasi Markus bergerak dengan laju yang sangat cepat, melompat dari satu peristiwa ke peristiwa lain tanpa banyak detail deskriptif, seolah-olah mendesak pembaca untuk terus mengikuti aksi yang sedang berlangsung.[23] Gaya penulisan ini sejalan dengan tema Markus yang menyajikan Yesus sebagai figur yang sangat bersemangat, selalu bergerak, dan fokus pada misi-Nya.

Selain itu, Injil Markus juga unik karena ia tidak menyertakan narasi kelahiran atau silsilah Yesus, yang menjadi ciri khas Injil Matius dan Lukas. Injil ini langsung membuka dengan pelayanan Yohanes Pembaptis dan baptisan Yesus, seakan-akan mengatakan, “Kita tidak perlu kembali ke masa lalu; yang penting adalah apa yang sedang terjadi sekarang.” Keputusan untuk memulai narasi di sini menunjukkan bahwa bagi Markus, otoritas dan identitas Yesus ditegaskan bukan oleh garis keturunan-Nya, tetapi oleh pengukuhan ilahi-Nya dalam baptisan dan oleh perbuatan-perbuatan kuasa-Nya yang luar biasa.[24] Gaya ini memperkuat kesan bahwa Injil Markus lebih berfokus pada tindakan daripada kata-kata, yang membuatnya menjadi bacaan yang langsung dan kuat.

Singkatnya, gaya penulisan Markus yang cepat, ringkas, dan berfokus pada tindakan berfungsi untuk menarik perhatian audiensnya yang mungkin terbiasa dengan gaya bercerita yang lebih lugas di dunia Romawi. Ia menyajikan sebuah kisah yang menarik tentang Yesus, yang memiliki otoritas ilahi yang menggerakkan narasi dengan kecepatan yang tak tertandingi.


[/collapsible]
[collapsible title=”Bahan Diskusi di Kelas (10 menit)”]

Arahkan diskusi dengan pertanyaan-pertanyaan berikut untuk mendorong pemikiran kritis dan aplikasi praktis:

  1. Implikasi Penderitaan Yesus: Apa implikasi teologis dari fokus Injil Markus pada penderitaan Yesus? Bagaimana hal itu relevan bagi kehidupan orang percaya hari ini, terutama saat menghadapi kesulitan dan tantangan?
  2. Konsep Rahasia Mesianik: Bagaimana konsep “Rahasia Mesianik” dalam Markus memengaruhi pemahaman kita tentang identitas dan misi Yesus? Mengapa Yesus tidak ingin identitas-Nya sebagai Mesias diumumkan secara terang-terangan?

[/collapsible]
[collapsible title=”Penulis dan Audiens Injil Markus”]

Tugas Terstruktur (120 menit)

  • Tugas Menyusun Garis Besar Kitab Markus:
    • Salinlah garis besar Kitab Markus dari minimal 5 sumber berbeda (misalnya, buku-buku tafsiran, situs web teologi, atau aplikasi Alkitab).
    • Berdasarkan perbandingan kelima sumber tersebut, susunlah garis besar pribadi untuk Kitab Markus.
  • Meringkas Buku F. Drewes, Satu Injil Tiga Pekabar: Terjadinya dan Amanat Injil-injil Matius, Markus, dan Lukas. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Bab 1 dan 2 (Batas Waktu Pengumpulan: Tugas ini harus dikumpulkan pada Pertemuan 3)

[/collapsible]
[collapsible title=”Tugas Mandiri (120 menit)”]

  • Membaca Injil Lukas: Ajak mahasiswa untuk membaca seluruh Kitab Injil Lukas.

[/collapsible]
[collapsible title=”KEPUSTAKAAN”]

[1] John Dominic Crossan, The Birth of Christianity: Discovering What Happened in the Years Immediately After the Execution of Jesus (San Francisco: HarperOne, 1998), 57

[2] Bart D Ehrman, The New Testament: A Historical Introduction to the Early Christian Writings, 6th ed. (New York: Oxford University Press, 2016), 152

[3] Raymond E Brown, The Birth of the Messiah: A Commentary on the Infancy Narratives in the Gospels of Matthew and Luke (New York: Doubleday, 1993), 21

[4] James D G Dunn, The Oral Gospel Tradition (Grand Rapids: Eerdmans, 2013), 88-90

[5] C H Dodd, The Apostolic Preaching and Its Developments: Three Lectures with an Appendix on Eschatology and History (London: Hodder and Stoughton, 1936), 45

[6] R T France, The Gospel of Mark: A Commentary on the Greek Text (Grand Rapids: Eerdmans, 2002), 12-15

[7] William Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari: Injil Markus (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008), 17-21

[8] Eusebius of Caesarea, Ecclesiastical History, ed. Kirsopp Lake, vol. 1, Loeb Classical Library (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1926), 3.39.15

[9] John Stott, Tafsiran Perjanjian Baru: Injil Markus (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 2006), 32-33

[10] Ibid. Ibid.

[11] Theodorus van Leeuwen, Tafsiran Injil Markus (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001), 45-47

[12] B H Hagelberg, Tafsiran Injil Markus (Bandung: Persekutuan Pembaca Alkitab, 2010), 50-51

[13] Frank J Matera, What Are They Saying About Mark? (New York: Paulist Press, 2002), 72

[14] N T Wright, The New Testament and the People of God (Minneapolis: Fortress Press, 1992), 488

[15] H C Theissen, Studi Perjanjian Baru: Suatu Pengantar (Malang: Gandum Mas, 2016), 187

[16] Ibid. 188

[17] I Howard Marshall, Injil Markus (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008), 215

[18] Howard Marshall, Injil Markus Dan Ajaran-Ajarannya (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993), 20

[19] F F Bruce, Sejarah Perjanjian Baru (Bandung: Kalam Hidup, 2004), 101

[20] N T Wright, The Challenge of Jesus: Rediscovering Who Jesus Was and Is (London: SPCK, 2000), 25

[21] William Wrede, Das Messiasgeheimnis in Den Evangelien (G�ttingen: Vandenhoeck & Ruprecht, 1901), 31

[22] Ben Witherington III, The Gospel of Mark: A Socio-Rhetorical Commentary (Grand Rapids: Eerdmans, 2001), 242-3

[23] J R G S G S Samosir, Pengantar Hermeneutik Perjanjian Baru: Sebuah Pengantar Untuk Memahami Inti Teologis Dari Karya-Karya Paulus, Injil-Injil Sinoptik, Dan Surat-Surat Kiriman Lainnya (Bandung: Kalam Hidup, 2011), 58

[24] Witherington III, The Gospel of Mark: A Socio-Rhetorical Commentary, 74

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top