
INJIL LUKAS (Bagian Pertama)
[collapsible title=”Kepenulisan Lukas”]
Kepenulisan Lukas
Identitas penulis Injil Lukas dan Kitab Kisah Para Rasul sebagai Lukas, seorang tabib dan rekan seperjalanan Paulus, didukung oleh bukti-bukti yang sangat kuat, baik dari dalam (internal) maupun luar (eksternal) Alkitab.1
Bukti Internal
Penulis, dalam Kitab Kisah Para Rasul, beralih dari narasi orang ketiga “mereka” menjadi orang pertama jamak (“kami”). Perubahan ini terjadi ketika Paulus melakukan perjalanan misi di Troas (Kis. 16:10-17), kemudian di Makedonia hingga Yerusalem (Kis. 20:5-21:18), dan selama pelayaran ke Roma (Kis. 27:1-28:16). Perubahan kata ganti ini mengindikasikan bahwa penulis secara fisik menyertai Paulus pada bagian-bagian perjalanan tersebut.2
Mengingat Lukas adalah satu-satunya rekan Paulus yang selalu bersamanya di akhir pelayanan dan di penjara, secara logis ia adalah satu-satunya kandidat yang paling mungkin menjadi penulis.3
Ayat-ayat berikut secara spesifik mendukung pernyataan bahwa Lukas adalah satu-satunya rekan Paulus yang bersamanya hingga akhir pelayanan dan masa-masa sulit di penjara. Kolose 4:14 menegaskan Lukas sebagai rekan yang setia dan seorang tabib. 2 Timotius 4:11 menunjukkan bahwa dari semua rekan Paulus, hanya Lukas yang tetap bersamanya di akhir pelayanannya.
Kedua ayat ini memberikan kesaksian biblis yang tak terbantahkan tentang hubungan dekat dan kesetiaan Lukas kepada Paulus.4
Gaya Penulisan dan Kosakata Medis: Penulis Injil Lukas dan Kisah Para Rasul memiliki gaya bahasa Yunani yang sangat terpelajar dan cermat. Para ahli tekstual, seperti A. T. Robertson, mencatat penggunaan kosakata medis yang presisi sesuai profesi tabib.5
Bukti Eksternal
Kesaksian Bapa Gereja Mula-mula seperti Irenaeus dari Lyon yang menyatakan bahwa Lukas, teman Paulus, adalah penulis Injil ketiga dan Kisah Para Rasul.6 Fragmen Muratori juga menamai Lukas sebagai penulis dan tabib pendamping Paulus.7 Bukti ini juga didukung oleh Tertullian, Origenes, dan Eusebius.8
Hubungan dengan Paulus: Unanimitas kesaksian ini menguatkan klaim Lukas sebagai penulis berdasarkan hubungan dekat dengan Paulus.9
Bukti internal dan eksternal ini memberikan landasan kuat bagi keyakinan bahwa Lukas adalah penulis yang sah dari Injil yang menyandang namanya.10
[/collapsible]
[collapsible title=”Tujuan Penulisan Injil Lukas”]
Tujuan Penulisan Injil Lukas
Tujuan penulisan Injil Lukas tidak hanya untuk memberikan narasi tentang kehidupan Yesus, tetapi juga untuk menyajikannya sebagai sebuah karya sejarah yang andal, teologi yang mendalam, dan apologetika yang kuat bagi iman Kristen. Lukas secara eksplisit menyatakan tujuannya di bagian prolog (Lukas 1:1-4) yang ditujukan kepada Teofilus. Ia menulis agar Teofilus “mengetahui dengan pasti akan kebenaran dari apa yang telah diajarkan kepadamu.” Ini menunjukkan bahwa Lukas ingin memberikan landasan yang kokoh dan terverifikasi bagi iman Teofilus dan pembaca lainnya. Para sarjana Alkitab berdiskusi tentang dimensi yang berbeda dari tujuan Lukas ini, berikut beberapa pandangan tentang tujuan penulisan Injil Lukas.
Tujuan Historis dan Apologetika
Sebagian besar ahli, termasuk sejarawan klasik seperti A.N. Sherwin-White, melihat Injil Lukas dan Kisah Para Rasul sebagai upaya apologetika yang serius.11 Lukas menulis untuk menunjukkan bahwa Kekristenan bukanlah gerakan revolusioner atau bidat berbahaya, melainkan sebuah agama yang sah dan berakar pada fakta-fakta sejarah yang dapat diverifikasi. Lukas menyertakan detail geografis yang akurat, nama-nama pejabat Romawi yang tepat, dan tanggal yang spesifik, yang secara ilmiah menunjukkan bahwa ia adalah seorang penulis yang teliti.12 Dengan menyajikan iman Kristen dalam bahasa dan kerangka berpikir Yunani-Romawi, Lukas berargumen bahwa iman kepada Yesus tidak bertentangan dengan tatanan sosial, melainkan mewakili kelanjutan dari rencana ilahi yang telah lama dinubuatkan dan sekarang digenapi dalam sejarah.
Tujuan Didaktis dan Teologis
Di sisi lain, para teolog seperti Joel B. Green berpendapat bahwa tujuan utama Lukas adalah didaktis atau pengajaran.13 Lukas tidak hanya ingin meyakinkan pembaca akan fakta, tetapi juga membentuk iman dan spiritualitas mereka. Melalui penekanannya pada kaum miskin, perempuan, dan orang buangan, Lukas mengajarkan teologi tentang belas kasihan dan inklusivitas radikal. Ia menggambarkan Yesus yang memberitakan kabar baik kepada orang miskin (Lukas 4:18-19) dan menempatkan para pendosa serta orang Samaria sebagai pahlawan dalam perumpamaan-perumpamaan-Nya. Tujuan ini, bagi banyak sarjana, adalah yang paling sentral—untuk memanggil gereja agar meniru teladan Yesus dalam melayani mereka yang terpinggirkan. Injil Lukas adalah seruan untuk hidup yang sesuai dengan nilai-nilai Kerajaan Allah.
Tujuan Pastoral
Selain kedua tujuan di atas, beberapa sarjana juga melihat tujuan pastoral dalam tulisan Lukas.14 Lukas menulis untuk menghibur, menguatkan, dan memberikan jaminan kepada komunitas Kristen yang mungkin menghadapi kesulitan atau tantangan. Dengan menunjukkan bahwa misi Yesus berlanjut melalui pekerjaan Roh Kudus dalam Kisah Para Rasul, Lukas meyakinkan pembacanya bahwa Allah tetap berdaulat dan menyertai umat-Nya. Teks ini memberikan narasi yang kohesif tentang sejarah keselamatan, mulai dari Perjanjian Lama hingga kehidupan Yesus dan pertumbuhan gereja mula-mula, yang bertujuan untuk memberikan kepercayaan dan harapan kepada jemaat.
Tujuan Lainnya
Sementara itu banyak sarjana berpendapat bahwa tujuan Lukas lebih kompleks dan tidak terbatas pada tiga hal tersebut. Beberapa tujuan lain yang juga diidentifikasi oleh para sarjana,
Tujuan Misionaris/Evangelistik: Injil Lukas, terutama bila dibaca bersama Kitab Kisah Para Rasul, dapat dilihat sebagai dokumen misionaris. Lukas ingin menunjukkan bagaimana kabar baik menyebar dari Yerusalem “sampai ke ujung bumi” (Kisah Para Rasul 1:8). Ia menggambarkan proses ini secara sistematis, memberikan teladan dan dorongan bagi gereja untuk melanjutkan misi penginjilan kepada segala bangsa.
Tujuan Sosiologis/Komunitarian: Beberapa sarjana berargumen bahwa Lukas menulis untuk memberikan model bagi komunitas Kristen. Dengan menekankan perhatian Yesus kepada orang miskin dan seruannya untuk berbagi (Lukas 12:33), Lukas bertujuan untuk membentuk komunitas gereja yang peduli terhadap keadilan sosial dan hidup dalam solidaritas. Ia ingin menunjukkan bahwa iman kepada Kristus memiliki implikasi radikal terhadap bagaimana kita hidup bersama dalam sebuah komunitas.15
Lukas, yang pasti memiliki satu tujuan tetapi tulisannya tersebut telah menjadi tulisan yang bermanfaat bagi tujuan-tujuan lainnya yang menjadikannya sebuah dokumen yang kaya secara teologis, historis, dan praktis bagi gereja.
[/collapsible]
[collapsible title=”Tema-tema Kunci Injil Lukas”]
Tema-tema Kunci Injil Lukas
Injil Lukas, dengan keunikan naratif dan teologisnya, memiliki sejumlah tema kunci yang menonjol dan membedakannya dari Injil lain. Tema-tema ini tidak hanya memberikan pemahaman yang lebih kaya tentang Yesus, tetapi juga mendorong pembaca untuk bertindak sesuai dengan nilai-nilai Kerajaan Allah.
Universalitas dan Inklusivitas
Salah satu tema paling menonjol dalam Injil Lukas adalah universalisme pesan Yesus, yang melampaui batas-batas etnis Yahudi.16 Lukas menyajikan Yesus sebagai Juruselamat bagi seluruh umat manusia. Hal ini secara jelas terlihat dari silsilah Yesus yang ia catat, yang dilacak mundur hingga Adam, bukan hanya Abraham.17 Dengan demikian, Lukas secara teologis menunjukkan bahwa kabar baik Kristus ditujukan untuk setiap bangsa dan setiap individu.18 Narasi ini bertujuan untuk meyakinkan audiens non-Yahudi (Gentiles) bahwa mereka juga memiliki tempat yang sah dalam rencana keselamatan Allah yang besar.
Perhatian kepada Kelompok Marginal
Lukas secara unik menyoroti perhatian Yesus yang luar biasa kepada kelompok-kelompok yang terpinggirkan secara sosial. Ia menampilkan belas kasihan Yesus terhadap kaum miskin, yang kabar baik diberitakan kepada mereka di awal pelayanan-Nya (Lukas 4:18). Lukas memberikan peran sentral kepada perempuan, menampilkan mereka sebagai pendukung finansial yang setia (Lukas 8:1-3) dan saksi-saksi penting dalam peristiwa Kebangkitan (Lukas 24:1-11).19 Lukas juga menampilkan orang-orang buangan, seperti pemungut cukai dan orang berdosa, sebagai penerima kasih karunia Yesus, dan bahkan menempatkan orang Samaria sebagai pahlawan dalam perumpamaan-Nya (Lukas 10:25-37).20 Tema ini adalah inti dari teologi Lukas, yang menekankan bahwa Kerajaan Allah membalikkan hierarki sosial dunia dan menyambut mereka yang dianggap tidak layak oleh masyarakat.
Peran Sentral Roh Kudus
Lukas memberikan penekanan yang sangat besar pada peran Roh Kudus, bahkan lebih dari Injil lainnya.21 Roh Kudus digambarkan sebagai kekuatan ilahi yang membimbing dan memberdayakan. Lukas melacak kehadiran Roh Kudus sejak dari konsepsi Yohanes Pembaptis dan Yesus, pembaptisan Yesus, hingga awal pelayanan-Nya di Nazaret (Lukas 4). Lukas menggambarkan Roh Kudus sebagai pendorong di balik semua peristiwa kunci, baik dalam kehidupan Yesus maupun dalam kehidupan para pengikut-Nya. Dalam Kitab Kisah Para Rasul, kelanjutan Injil Lukas, Roh Kudus adalah motor yang menggerakkan misi gereja mula-mula, membimbing para rasul dalam penginjilan dan pembentukan jemaat.22
Doa dan Pujian
Tema lain yang konsisten dalam Injil Lukas adalah doa dan pujian. Lukas secara unik mencatat lebih banyak doa Yesus daripada Injil lainnya, sering kali pada momen-momen penting dalam pelayanan-Nya, seperti sebelum pemilihan murid (Lukas 6:12) dan sebelum transfigurasi (Lukas 9:28). Lukas juga satu-satunya Injil yang menyertakan himne-himne dan nyanyian pujian, seperti Magnificat Maria (Lukas 1:46-55), Benedictus Zakharia (Lukas 1:68-79), dan Nunc Dimittis Simeon (Lukas 2:29-32).23 Ini menunjukkan bahwa Lukas melihat doa dan penyembahan sebagai bagian integral dari kehidupan yang beriman.
Penekanan pada Kerajaan Allah dan Kekayaan
Lukas memiliki pesan yang sangat kuat tentang Kerajaan Allah dan implikasinya terhadap kekayaan. Ia menantang nilai-nilai materialistis dan mendorong solidaritas dengan kaum miskin.24 Hal ini terlihat dari perumpamaan-perumpamaan uniknya, seperti Orang Kaya yang Bodoh (Lukas 12:13-21) dan Lazarus dan Orang Kaya (Lukas 16:19-31). Lukas menekankan bahwa kesetiaan kepada Kerajaan Allah sering kali menuntut pengorbanan harta duniawi dan bahwa kekayaan dapat menjadi penghalang untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Pesan ini mendorong para pembaca untuk memeriksa ulang prioritas mereka dan hidup dengan kemurahan hati.
Perjalanan ke Yerusalem
Sebagian besar Injil Lukas, dari pasal 9 hingga 19, adalah narasi yang dikenal sebagai “Perjalanan ke Yerusalem.” Lukas menggambarkan perjalanan Yesus ini secara sengaja sebagai perjalanan yang penuh makna teologis, menuju tujuan akhir-Nya di Yerusalem. Selama perjalanan ini, Yesus menyampaikan banyak ajaran dan perumpamaan yang hanya ditemukan dalam Injil Lukas. Perjalanan ini berfungsi sebagai kerangka naratif yang menyatukan ajaran-ajaran Yesus, menyoroti tekad-Nya untuk menyelesaikan misi-Nya, dan menghubungkan kehidupan dan pelayanan-Nya dengan peristiwa besar di Yerusalem: penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya.25
[/collapsible]
[collapsible title=”Keunikan Narasi Lukas”]
Keunikan Narasi Lukas
Narasi Injil Lukas memiliki ciri khas yang membedakannya dari Injil Matius, Markus, dan Yohanes. Keunikan ini bukan hanya terletak pada tema-tema teologisnya, tetapi juga pada struktur dan materi yang ia sajikan. Lukas menyusun Injilnya dengan perhatian yang cermat terhadap detail sejarah dan gaya bahasa, menjadikannya sebuah karya sastra dan teologis yang mendalam.
Prolog Seorang Sejarawan
Keunikan narasi Lukas sudah terlihat sejak bagian prolog. Dalam Lukas 1:1-4, ia secara eksplisit menyatakan tujuannya untuk menulis sebuah catatan yang “teratur” atau “terorganisir” (kathexēs) setelah melakukan penyelidikan yang cermat dari para saksi mata.26 Lukas menggunakan bahasa Yunani yang canggih dan gaya penulisan yang mirip dengan sejarawan-sejarawan klasik pada masanya, menunjukkan bahwa ia memandang karyanya sebagai sebuah dokumen sejarah yang andal.27 Prolog ini tidak ditemukan dalam Injil-injil lainnya dan secara langsung memberikan kredibilitas pada narasi yang akan ia sajikan.
Kisah Natal dan Masa Kecil yang Terperinci
Lukas adalah satu-satunya penulis Injil yang memberikan narasi terperinci tentang kisah Natal dan masa kecil Yesus. Ia menceritakan peristiwa-peristiwa penting yang tidak ada dalam Injil lain, seperti sensus yang diperintahkan oleh Kaisar Agustus, kelahiran Yohanes Pembaptis, kunjungan malaikat kepada para gembala, dan persembahan Yesus di Bait Allah.28 Lukas juga menyertakan sejumlah nyanyian dan himne yang indah, seperti Magnificat Maria (Lukas 1:46-55), Benedictus Zakharia (Lukas 1:68-79), dan Nunc Dimittis Simeon (Lukas 2:29-32).29 Kisah-kisah ini bukan hanya menambah detail naratif, tetapi juga berfungsi untuk menunjukkan bagaimana peristiwa-peristiwa ini merupakan penggenapan janji-janji Allah dalam Perjanjian Lama.30
Perjalanan ke Yerusalem
Salah satu fitur naratif yang paling unik dalam Injil Lukas adalah bagian “Perjalanan ke Yerusalem” yang panjang, yang membentang dari pasal 9:51 hingga 19:27.³¹ Di sini, Lukas menyusun materi yang tidak ditemukan di Injil lain, termasuk banyak perumpamaan ikonik Yesus, ke dalam satu narasi perjalanan yang penuh makna teologis.³² Selama perjalanan ini, Yesus secara bertahap mengajarkan para murid-Nya tentang biaya menjadi seorang pengikut-Nya dan memberikan perumpamaan tentang belas kasihan dan pengampunan. Struktur naratif ini menunjukkan tekad Yesus untuk menghadapi penderitaan dan kematian di Yerusalem, yang merupakan pusat dari misi-Nya.³³
Perumpamaan dan Kisah yang Eksklusif
Lukas, dalam narasi perjalanannya, mencatat sejumlah perumpamaan dan kisah yang tidak ada dalam Injil-injil lainnya. Perumpamaan-perumpamaan ini sering kali menyoroti tema-tema utama Injil Lukas, seperti perhatian kepada yang terpinggirkan dan tantangan terhadap kekayaan. Contoh-contoh paling terkenal termasuk Perumpamaan Orang Samaria yang Murah Hati (Lukas 10:25-37), Anak yang Hilang (Lukas 15:11-32), dan Lazarus dan Orang Kaya (Lukas 16:19-31).34 Lukas juga mencatat kisah-kisah unik seperti penyembuhan sepuluh orang kusta (Lukas 17:11-19) dan pertemuan Yesus dengan Zakheus si pemungut cukai (Lukas 19:1-10), yang secara visual menggambarkan belas kasihan Yesus.35
Peran Sentral Wanita dan Kelompok Marginal
Lukas secara unik memberikan peran sentral kepada wanita dan kelompok marginal dalam narasinya.36 Ini tidak hanya terbatas pada Maria dan para wanita yang mendanai pelayanan Yesus, tetapi juga pada figur-figur yang sering diabaikan dalam budaya Yahudi kuno, seperti janda miskin, orang Samaria, dan pemungut cukai.37 Melalui narasi-narasi ini, Lukas secara konsisten menunjukkan bahwa keselamatan yang dibawa Yesus bersifat inklusif, melampaui batas-batas sosial dan gender.38
Catatan Kaki
- F. F. Bruce, The New Testament Documents: Are They Reliable? (Grand Rapids: Eerdmans, 1981), 158-60.
- Ibid., 161-2.
- Darrell L. Bock, Luke (Vol. 1, Baker Exegetical Commentary on the New Testament; Grand Rapids: Baker Academic, 1994), 45-48.
- F. F. Bruce, Paul: Apostle of the Heart Set Free (Grand Rapids: Eerdmans, 1977), 221.
- A. T. Robertson, Word Pictures in the New Testament: Acts (Nashville: Broadman Press, 1932), 320-2.
- Irenaeus, Against Heresies, Book 3, Chapter 1, 1 (ca. 180 AD).
- Fragmentum Muratorianum, ca. 170 AD, in Bruce M. Metzger, The Canon of the New Testament (Oxford: Clarendon Press, 1987), 305.
- Eusebius, Ecclesiastical History 3.24; Tertullian, Adversus Marcionem 4.6; Origen, Commentary on Matthew, 13.5.
- Everett Ferguson, Backgrounds of Early Christianity (Grand Rapids: Eerdmans, 2003), 356-8.
- Bock, Darrell L., Luke, 52-54.
- Sherwin-White, A.N., Lukas, Kisah Para Rasul, dan Sejarah Romawi, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012, 110-112.
- Ibid.
- Green, Joel B., Injil Lukas: Tafsiran Teologis dan Ekspositori, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2015, 50-51.
- Bock, Darrell L., Luke, 52-54.
- Green, Injil Lukas, 46-47.
- 40-42.
- Bock, Darrell L., Luke, 55-58.
- Green, Injil Lukas, 44.
- , 45-47.
- Ferguson, Early Christianity, 120-1.
- Barth, Markus, 204.
- , 205.
- Green, Injil Lukas, 25-27.
- 50-51.
- Bock, Luke, 82-85.
- Tong, 125.
- Barth, Markus, 202-3.
- Bock, Luke, 35-40.
- Green, Injil Lukas, 25-27.
- , 28-30.
- Bock, Luke, 82-85.
- , 86-90.
- Green, Injil Lukas, 120-5.
- , 150-5.
- Ferguson, Early Christianity, 120-1.
- , 122-3.
- Green, Injil Lukas, 45-47.
- Tong, Mengenal Theologi Paulus, 127.
[/collapsible]
[collapsible title=”Bahan Diskusi”]
Bahan Diskusi
-
- Bagaimana penekanan Injil Lukas pada keakuratan sejarah dapat memperkuat iman kita di tengah narasi-narasi alternatif tentang Yesus?
- Dalam masyarakat yang makin terpolarisasi, bagaimana kita dapat mengaplikasikan tema inklusivitas Injil Lukas dalam kehidupan gereja dan masyarakat?
[/collapsible]
[collapsible title=”Tugas Terstruktur dan Tugas Mandiri”]
Tugas Terstruktur (120 menit)
-
- Tugas Menyain Garis Besar Kitab Lukas: Kumpulkan garis besar Kitab Lukas dari minimal 5 sumber berbeda (buku, internet, aplikasi Alkitab Android). Setelah itu, susunlah garis besar pribadi Anda untuk Kitab Lukas berdasarkan pemahaman dan analisis Anda sendiri. Tugas dikumpulkan pada Pertemuan 5. (Berkorelasi dengan CPMK-P1, CPMK-P2, CPMK-S1, CPMK-KU1, CPMK-KU4).
- Meringkas buku Satu Injil Tiga Pekabar, Karya B. F. Drewes: Buatlah ringkasan buku Satu Injil Tiga Pekabar Bab 3. Tugas dikumpulkan pada Pertemuan 5. (Berkorelasi dengan CPMK-P1, CPMK-P2, CPMK-S1, CPMK-KU1, CPMK-KU4).
- Buatlah makalah mendalam tentang kelompok-kelompok kunci dalam Yudaisme abad pertama yang berinteraksi dengan Yesus dan gereja mula-mula: Farisi, Saduki, Zelot, Ahli-ahli Taurat, Kelompok Herodian dan Yahudi Diaspora. Makalah harus mencakup:
- Sejarah kemunculan dan perkembangan masing-masing kelompok.
- Kepercayaan/ideologi utama dan praktik-praktik keagamaan atau politik mereka.
- Peran dalam masyarakat Yahudi pada abad pertama.
- Bagaimana mereka berinteraksi dengan Yesus (pandangan mereka tentang Yesus, konflik, atau dukungan).
- Relevansi atau dampak mereka terhadap gerakan Kekristenan awal.
- Panjang Makalah: Minimal 8 halaman (tidak termasuk halaman judul, daftar isi, dan daftar pustaka).
- Format: Font Times New Roman 12, spasi 1.5, margin standar.
- Sitasi & Kepustakaan: Wajib menggunakan catatan kaki (footnotes) dan Kepustakaan (bibliography) yang dikelola dengan aplikasi referensi seperti Zotero atau Mendeley.
- Pada tahap ini, mulailah membaca dan mencatat kutipan-kutipan dari sumber-sumber (buku, website, blog atau jurnal) tentang kelompok Yudaisme yang telah ditentukan.
- Makalah dikumpulkan saat Ujian Akhir Semester.
Tugas Mandiri (120 menit)
-
- Membaca Kisah Para Rasul 1-12 dan mencatat tokoh atau peristiwa penting yang menarik perhatian Anda.
- Menulis refleksi di Journalit terhadap pertemuan ini. (Berkorelasi dengan CPMK-P1, CPMK-KU3).
[/collapsible]
