Bagian I: Hakikat Analisis Data Deskriptif
1. Apa yang Dimaksud dengan Analisis Data Deskriptif?
Sepanjang pertemuan-pertemuan sebelumnya, mahasiswa telah mempelajari berbagai alat statistik: distribusi frekuensi, mean, median, modus, varians, standar deviasi, serta konsep validitas dan reliabilitas instrumen. Pertemuan Minggu 8 ini merupakan pertemuan integrasi ā yakni pertemuan di mana seluruh alat tersebut dipadukan dalam satu kerangka kerja yang disebut analisis data deskriptif.
Analisis data deskriptif adalah proses mengolah, merangkum, dan menyajikan data secara sistematis sehingga karakteristik utama kumpulan data tersebut dapat dipahami dengan jelas ā tanpa melakukan generalisasi ke luar sampel yang diteliti. Kata kunci dalam definisi ini adalah merangkum dan menyajikan: tujuan analisis deskriptif bukan untuk menarik kesimpulan tentang populasi yang lebih besar (itu adalah tugas statistika inferensial), melainkan untuk menggambarkan keadaan data yang ada di hadapan kita secara akurat dan bermakna.
š” Ilustrasi Sederhana
Seorang ketua panitia Sekolah Minggu ingin melaporkan kondisi program kepada majelis gereja. Ia mengumpulkan data kehadiran anak selama 10 minggu: 42, 45, 38, 50, 47, 43, 51, 39, 48, 52. Dengan analisis data deskriptif, ia dapat menyampaikan: rata-rata kehadiran 45,5 anak per minggu, rentang antara 38 hingga 52 anak, dan tren yang cenderung meningkat. Laporan ini jauh lebih informatif dan dapat diandalkan dibandingkan sekadar menyebutkan angka-angka mentah tanpa analisis.
2. Perbedaan Statistika Deskriptif dan Statistika Inferensial
Penting untuk memahami posisi analisis data deskriptif dalam kerangka statistika yang lebih luas.
| Aspek | Deskriptif | Inferensial |
|---|---|---|
| Tujuan | Menggambarkan data yang ada | Menarik kesimpulan tentang populasi |
| Cakupan | Hanya data yang dikumpulkan (sampel) | Menggeneralisasi ke populasi lebih luas |
| Alat utama | Mean, median, SD, tabel, grafik | Uji-t, uji-F, korelasi, regresi |
| Contoh pertanyaan | Berapa rata-rata nilai siswa kelas ini? | Apakah metode A lebih baik dari B? |
Dalam praktik penelitian pendidikan dan pelayanan gereja, analisis deskriptif selalu menjadi langkah pertama yang wajib sebelum analisis inferensial dilakukan. Peneliti perlu memahami karakteristik data yang dimiliki sebelum dapat memilih uji statistik lanjutan yang tepat.
3. Komponen Utama Analisis Data Deskriptif
Analisis data deskriptif yang lengkap mencakup empat komponen yang saling melengkapi:
| Komponen | Alat Statistik |
|---|---|
| Ukuran pemusatan | Mean, median, modus |
| Ukuran penyebaran | Range, varians, standar deviasi |
| Distribusi frekuensi | Tabel frekuensi, persentase, histogram |
| Penyajian visual | Diagram batang, garis, lingkaran |
Bagian II: Memilih Ukuran Statistik yang Tepat
1. Pemilihan Berdasarkan Skala Pengukuran
Salah satu kesalahan paling umum dalam analisis data deskriptif adalah menggunakan ukuran statistik yang tidak sesuai dengan skala pengukuran data. Pemilihan ukuran statistik yang tepat harus selalu mempertimbangkan jenis data yang dimiliki.
| Skala Data | Ukuran yang Tepat |
|---|---|
| Nominal (kategori tanpa urutan) | Modus, frekuensi, persentase |
| Ordinal (kategori berurutan) | Modus, median, persentil |
| Interval / Rasio (angka dengan makna kuantitatif) | Mean, median, modus, SD, varians |
Contoh dalam PAK: Data jenis kelamin siswa (laki-laki/perempuan) berskala nominal ā hanya modus dan persentase yang bermakna. Menghitung mean jenis kelamin adalah tidak tepat secara statistik. Sebaliknya, nilai ujian PAK berskala interval ā mean dan standar deviasi dapat dihitung dengan bermakna.
2. Kapan Menggunakan Mean, Median, atau Modus?
| Ukuran | Digunakan Ketika |
|---|---|
| Mean | Data interval/rasio, distribusi relatif simetris, tidak ada outlier ekstrem |
| Median | Ada outlier, data ordinal, distribusi miring (skewed) |
| Modus | Data nominal, ingin tahu nilai yang paling sering muncul |
š” Contoh Kontekstual
Gereja mengevaluasi program katekisasi dengan meminta peserta mengisi skor kepuasan 1ā10. Hasilnya: 8, 8, 9, 7, 8, 9, 10, 2, 9, 8. Mean = 7,8. Median = 8. Modus = 8.
Dalam kasus ini, satu responden memberi skor sangat rendah (2) yang menarik mean ke bawah. Median (8) lebih representatif sebagai gambaran kepuasan umum peserta, karena tidak dipengaruhi oleh skor ekstrem tersebut.
Bagian III: Menyusun Tabel Ringkasan Analisis Data Deskriptif
1. Format Tabel Ringkasan Standar
Dalam laporan penelitian pendidikan dan pelayanan, analisis data deskriptif disajikan dalam bentuk tabel ringkasan (descriptive statistics table) yang memuat seluruh ukuran statistik yang relevan dalam satu tampilan yang ringkas. Tabel ini memudahkan pembaca memahami karakteristik data sekilas pandang.
Format standar tabel ringkasan analisis deskriptif:
| Statistik | Nilai |
|---|---|
| Jumlah data (N) | ⦠|
| Nilai minimum | ⦠|
| Nilai maksimum | ⦠|
| Range (rentang) | ⦠|
| Mean (rata-rata) | ⦠|
| Median | ⦠|
| Modus | ⦠|
| Standar Deviasi (SD) | ⦠|
| Varians (s²) | ⦠|
2. Contoh Lengkap: Analisis Nilai Ujian Tengah Semester PAK
Berikut adalah contoh kasus analisis data deskriptif yang lengkap. Data nilai Ujian Tengah Semester mata pelajaran PAK dari 20 siswa SMA Kristen:
72, 68, 75, 80, 65, 78, 82, 70, 74, 88, 71, 76, 69, 83, 77, 73, 79, 85, 67, 81
Langkah 1: Urutkan data dari terkecil ke terbesar
65, 67, 68, 69, 70, 71, 72, 73, 74, 75, 76, 77, 78, 79, 80, 81, 82, 83, 85, 88
Langkah 2: Hitung ukuran pemusatan
Mean = (65+67+68+69+70+71+72+73+74+75+76+77+78+79+80+81+82+83+85+88) / 20 = 1,512 / 20 = 75,6
Median = rata-rata nilai ke-10 dan ke-11 = (75 + 76) / 2 = 75,5
Modus = tidak ada (setiap nilai muncul sekali) ā tidak terdefinisi
Langkah 3: Hitung ukuran penyebaran
Nilai minimum = 65 | Nilai maksimum = 88 | Range = 88 ā 65 = 23
Standar deviasi (s) ā 6,2 | Varians (s²) ā 38,4
Tabel Ringkasan Hasil Analisis:
| Statistik Deskriptif ā Nilai UTS PAK (N = 20) | |
|---|---|
| Nilai minimum | 65 |
| Nilai maksimum | 88 |
| Range | 23 |
| Mean | 75,6 |
| Median | 75,5 |
| Standar Deviasi | 6,2 |
| Varians | 38,4 |
Bagian IV: Interpretasi Hasil Analisis Deskriptif
1. Prinsip-Prinsip Interpretasi yang Baik
Menghasilkan angka statistik adalah langkah pertama ā menginterpretasikan angka tersebut secara bermakna adalah langkah yang lebih penting. Interpretasi yang baik memenuhi empat prinsip berikut:
| Prinsip | Penjelasan |
|---|---|
| Kontekstual | Angka harus dijelaskan dalam konteks situasi nyata ā bukan sekadar menyebut nilai angkanya |
| Menyeluruh | Tidak cukup hanya menyebut mean ā pemusatan dan penyebaran harus disajikan bersama |
| Kritis | Identifikasi data yang tidak biasa (outlier) dan kemungkinan penjelasannya |
| Implikatif | Hasil analisis harus dihubungkan dengan keputusan atau tindak lanjut yang konkret |
2. Contoh Interpretasi dari Data UTS PAK
Menggunakan data pada Bagian III, interpretasi yang lengkap dan bermakna adalah sebagai berikut:
Contoh Narasi Interpretasi:
Dari 20 siswa yang mengikuti Ujian Tengah Semester PAK, diperoleh nilai rata-rata sebesar 75,6 dengan median 75,5. Kedekatan antara mean dan median menunjukkan bahwa distribusi nilai relatif simetris ā tidak terdapat outlier ekstrem yang menarik rata-rata secara signifikan. Standar deviasi sebesar 6,2 mengindikasikan bahwa kemampuan siswa tergolong relatif homogen, karena hampir seluruh nilai (sekitar 68%) berada dalam rentang 69,4 hingga 81,8.
Nilai terendah 65 dan nilai tertinggi 88 menunjukkan rentang 23 poin. Tidak ada siswa yang mendapat nilai di bawah 60, sehingga seluruh siswa dapat dinyatakan memenuhi standar kelulusan. Kendati demikian, pendidik perlu memberikan perhatian khusus kepada siswa dengan nilai 65ā68 (sekitar 3 siswa) yang berada di bawah satu standar deviasi dari mean, karena mereka memerlukan penguatan materi tambahan.
3. Membaca Hubungan antara Mean dan Standar Deviasi
Kombinasi antara mean dan standar deviasi memberikan gambaran yang jauh lebih kaya dibandingkan setiap ukuran secara terpisah. Empat pola yang paling sering dijumpai dalam penelitian pendidikan dan pelayanan:
| Pola | Interpretasi |
|---|---|
| Mean tinggi, SD kecil | Kelas berprestasi tinggi dan homogen ā situasi ideal |
| Mean tinggi, SD besar | Rata-rata baik tetapi ada kesenjangan besar antar siswa ā perlu diferensiasi |
| Mean rendah, SD kecil | Seluruh kelas lemah secara merata ā kemungkinan materi atau pengajaran perlu ditinjau ulang |
| Mean rendah, SD besar | Sebagian besar lemah dengan beberapa pengecualian ā situasi yang paling membutuhkan perhatian |
Bagian V: Analisis Deskriptif dalam Konteks PAK dan Pelayanan Gereja
1. Contoh Kasus 1: Evaluasi Program Sekolah Minggu
Koordinator Sekolah Minggu sebuah gereja mengumpulkan data kehadiran anak-anak selama 12 minggu terakhir:
48, 52, 45, 55, 50, 42, 58, 53, 46, 60, 49, 57
| Ringkasan Analisis Deskriptif ā Kehadiran Sekolah Minggu | |
|---|---|
| N | 12 minggu |
| Min ā Maks | 42 ā 60 anak |
| Mean | 51,3 anak/minggu |
| Median | 51 anak |
| Standar Deviasi | 5,4 anak |
Interpretasi: Rata-rata kehadiran 51,3 anak per minggu dengan standar deviasi yang relatif kecil (5,4) menunjukkan kehadiran yang cukup stabil. Kehadiran paling rendah (42 anak) terjadi di satu minggu tertentu ā koordinator perlu menyelidiki penyebabnya (libur sekolah, kegiatan gereja lain, atau faktor cuaca). Tren positif terlihat dari nilai maksimum 60 anak yang dicapai di minggu ke-10.
2. Contoh Kasus 2: Analisis Skor Angket Kepuasan Jemaat
Gereja membagikan angket kepuasan terhadap program pemuridan kepada 15 peserta (skala 1ā10). Hasilnya:
8, 9, 7, 9, 8, 10, 7, 8, 9, 8, 6, 9, 8, 7, 9
Mean = 8,1 | Median = 8 | Modus = 8 dan 9 (bimodal) | SD = 0,96 | Min = 6 | Maks = 10
Interpretasi: Ketiga ukuran pemusatan (mean 8,1, median 8, modus 8 dan 9) berada dalam rentang yang sangat berdekatan, menunjukkan distribusi yang simetris dan konsisten. Standar deviasi yang sangat kecil (0,96) menegaskan bahwa seluruh peserta memiliki tingkat kepuasan yang sangat seragam ā hampir semua berada dalam rentang 7,1 hingga 9,1. Tidak ada peserta yang sangat tidak puas. Program pemuridan ini dapat dinilai berhasil dari perspektif kepuasan peserta.
3. Contoh Kasus 3: Perbandingan Dua Kelompok PAK
Seorang pendidik PAK mengajar dua kelas dengan metode berbeda dan ingin membandingkan hasilnya secara deskriptif sebelum melakukan uji statistik lebih lanjut.
| Statistik | Kelas A (Metode Ceramah) | Kelas B (Metode Diskusi) |
|---|---|---|
| N | 25 | 25 |
| Mean | 72,4 | 78,1 |
| Median | 72 | 78 |
| SD | 9,3 | 6,8 |
| Min ā Maks | 50 ā 90 | 62 ā 92 |
Interpretasi Deskriptif: Secara deskriptif, Kelas B (metode diskusi) menunjukkan rata-rata yang lebih tinggi (78,1 vs 72,4) sekaligus standar deviasi yang lebih kecil (6,8 vs 9,3) ā artinya siswa Kelas B tidak hanya berprestasi lebih baik secara rata-rata, tetapi juga lebih homogen. Apakah perbedaan ini signifikan secara statistik memerlukan uji-t yang akan dipelajari di pertemuan-pertemuan berikutnya.
ā Refleksi Teologis
Dalam tradisi Reformasi, tanggung jawab seorang pelayan dan pendidik Kristiani mencakup kewajiban untuk melaporkan keadaan sebenarnya kepada jemaat, gereja, dan kepada Allah sendiri. Analisis data deskriptif adalah sarana untuk memenuhi tanggung jawab tersebut secara jujur dan sistematis.
Angka yang tidak dianalisis dengan benar dapat menyembunyikan kebenaran ā baik keberhasilan maupun kegagalan. Seorang pendidik PAK yang melaporkan “nilai rata-rata siswa 75” tanpa menyebut standar deviasinya yang tinggi (misalnya SD = 20, artinya ada siswa yang mendapat 40 dan ada yang mendapat 95) sedang menyampaikan gambaran yang tidak utuh. Integritas dalam pelaporan data adalah bagian dari panggilan Kristiani untuk berlaku jujur dalam segala hal.
š Latihan di Kelas (LDK) ā 10 Soal
Petunjuk: Kerjakan secara tertulis. Tunjukkan alasan atau langkah analisis singkat untuk setiap jawaban. Semua soal bersifat kontekstual. Waktu: 25 menit.
1. Data nilai ulangan harian PAK dari 7 siswa: 70, 75, 80, 70, 85, 75, 90. Hitung mean, median, dan modus. Ukuran mana yang paling representatif untuk menggambarkan kemampuan kelas ini?
2. Seorang pendeta mencatat kehadiran ibadah 6 minggu berturut-turut: 120, 118, 125, 300, 122, 119. Mean = 167,3; Median = 121,5. Mengapa median lebih tepat digunakan untuk menggambarkan kehadiran rata-rata? Nilai berapa yang menyebabkan perbedaan ini?
3. Kelas A memiliki mean nilai PAK = 78 dengan SD = 3. Kelas B memiliki mean = 78 dengan SD = 15. Jelaskan implikasi perbedaan ini bagi strategi pembelajaran masing-masing kelas!
4. Data usia anggota paduan suara gereja: 18, 22, 25, 28, 30, 32, 35, 38, 42, 65. Hitung mean dan median. Mengapa keduanya berbeda? Outlier mana yang bertanggung jawab atas perbedaan ini?
5. Seorang koordinator PMR (Pemuda/Remaja) menghitung rata-rata kehadiran pemuda = 35 orang dengan SD = 8. Berapa kisaran kehadiran yang dianggap “normal” berdasarkan aturan 1 standar deviasi? Jika suatu minggu hanya hadir 15 orang, apakah ini perlu diselidiki?
6. Sebutkan SATU komponen analisis deskriptif yang tidak boleh dilewatkan ketika melaporkan data nilai siswa. Jelaskan mengapa!
7. Guru PAK membuat tes 20 soal. Hasil analisis: mean = 18, SD = 0,3. Apa masalah yang mungkin terjadi pada instrumen ini? Apa implikasinya bagi kemampuan tes untuk membedakan kemampuan siswa?
8. Berikut tabel analisis deskriptif angket “Keterlibatan Jemaat dalam Pelayanan” (skala 1ā5, N = 40):
| Statistik | Nilai |
|---|---|
| Mean | 3,6 |
| Median | 4,0 |
| SD | 0,9 |
| Min ā Maks | 1 ā 5 |
Tuliskan interpretasi deskriptif dari tabel di atas dalam 3ā4 kalimat!
9. Dalam laporan penelitian, seorang mahasiswa hanya menuliskan: “Rata-rata nilai siswa adalah 72.” Mengapa kalimat ini tidak mencukupi sebagai interpretasi data deskriptif yang baik? Apa yang harus ditambahkan?
10. Jelaskan perbedaan antara statistika deskriptif dan statistika inferensial menggunakan contoh dari konteks evaluasi program pelayanan gereja!
š Tugas Terstruktur (TT) ā Minggu 8
Topik: Analisis Data Deskriptif dan Interpretasi dalam Konteks PAK dan Gereja
Format: Laporan tertulis Ā |Ā Dikumpulkan: Minggu 9 (sebelum pertemuan dimulai)
Tugas Terstruktur 1 (TT-1):
Kumpulkan data nilai ujian atau nilai tugas dari minimal 15 siswa di kelas PAK (data nyata atau simulasi). Lakukan analisis data deskriptif lengkap: hitung dan sajikan N, nilai minimum, nilai maksimum, range, mean, median, modus, standar deviasi, dan varians dalam satu tabel ringkasan. Kemudian tuliskan interpretasi naratif minimal satu paragraf (5ā7 kalimat) yang mencakup: (a) gambaran umum kemampuan kelas, (b) tingkat homogenitas/heterogenitas, (c) identifikasi siswa yang memerlukan perhatian khusus, dan (d) rekomendasi pedagogis yang konkret bagi pendidik PAK.
Tugas Terstruktur 2 (TT-2):
Gereja Bethel melaksanakan program katekisasi selama 8 minggu. Di akhir program, 20 peserta mengisi angket evaluasi (skala 1ā10). Data skor kepuasan peserta: 8, 9, 7, 8, 10, 9, 7, 8, 9, 8, 6, 9, 8, 7, 9, 10, 8, 7, 9, 8. Lakukan analisis data deskriptif lengkap, buat tabel distribusi frekuensi (kelompokkan dalam interval: 6ā7, 8ā9, 10), dan tuliskan laporan interpretasi minimal 1 halaman. Laporan harus menjawab: apakah program katekisasi ini berhasil dari perspektif kepuasan peserta? Apa yang perlu dipertahankan dan ditingkatkan?
š Tugas Mandiri (TM) ā Minggu 8
Petunjuk: Meringkas bahan ajar Minggu 8 ini dengan tulisan tangan. Ringkasan mencakup: pengertian analisis data deskriptif, perbedaan dengan statistika inferensial, komponen utama analisis deskriptif, panduan pemilihan ukuran statistik yang tepat, dan prinsip-prinsip interpretasi yang baik.
Dikumpulkan: Pertemuan Minggu 9
Kesimpulan
Analisis data deskriptif adalah fondasi dari setiap penelitian dan evaluasi yang baik dalam konteks pendidikan Kristen maupun pelayanan gereja. Dengan menguasai cara memilih ukuran statistik yang tepat, menyusun tabel ringkasan yang sistematis, dan menginterpretasikan hasil secara kontekstual, seorang pendidik PAK dan pelayan gereja dapat menyampaikan laporan yang jujur, informatif, dan berguna bagi pengambilan keputusan.
Empat komponen utama analisis deskriptif ā ukuran pemusatan, ukuran penyebaran, distribusi frekuensi, dan penyajian visual ā harus selalu disajikan bersama-sama untuk memberikan gambaran yang menyeluruh. Mean saja tidak cukup: mean 75 dengan SD 3 menggambarkan situasi yang sangat berbeda dari mean 75 dengan SD 20, meskipun angka ratanya identik.
Bagi calon pendidik PAK dan pelayan gereja, kemampuan analisis deskriptif bukan sekadar keterampilan teknis statistika ā melainkan wujud nyata dari tanggung jawab, kejujuran, dan integritas dalam melaporkan kondisi pelayanan yang dipercayakan kepada mereka.
Kunci Jawaban Latihan di Kelas
1. Data: 70, 75, 80, 70, 85, 75, 90. Mean = (70+75+80+70+85+75+90)/7 = 535/7 = 76,4. Median (data terurut: 70,70,75,75,80,85,90) = nilai ke-4 = 75. Modus = 70 dan 75 (bimodal). Dalam kasus ini, median (75) paling representatif karena distribusinya agak miring ke kanan akibat nilai 90. Mean sedikit terpengaruh nilai tertinggi.
2. Nilai 300 adalah outlier ekstrem yang menarik mean jauh ke atas (167,3 vs kisaran nilai lain sekitar 118ā125). Median (121,5) tidak terpengaruh outlier dan lebih mencerminkan kehadiran ibadah yang sesungguhnya. Nilai 300 yang menjadi penyebab ā kemungkinan hari istimewa seperti Natal atau kebaktian khusus.
3. Kelas A: mean dan SD kecil ā kemampuan siswa seragam, strategi pembelajaran tunggal sudah memadai. Kelas B: mean sama tetapi SD besar ā terdapat kesenjangan kemampuan yang signifikan antara siswa tertinggi dan terendah, sehingga pendidik perlu menerapkan differentiated instruction: remedial bagi yang lemah, pengayaan bagi yang kuat.
4. Data terurut: 18, 22, 25, 28, 30, 32, 35, 38, 42, 65. Mean = 335/10 = 33,5. Median = (30+32)/2 = 31. Nilai 65 (anggota tertua) adalah outlier yang menarik mean ke atas. Median (31) lebih mencerminkan usia tipikal anggota paduan suara.
5. Kisaran “normal” (mean ± 1 SD) = 35 ± 8 = antara 27 hingga 43 orang. Kehadiran 15 orang berada di bawah mean ā 2,5 SD ā jauh di luar rentang normal dan perlu diselidiki segera. Kemungkinan penyebab: kegiatan sekolah bersamaan, konflik jadwal, atau masalah di dalam komunitas pemuda.
6. Standar deviasi tidak boleh dilewatkan. Mean tanpa SD tidak memberikan informasi tentang seberapa merata kemampuan siswa. Dua kelas dengan mean yang sama tetapi SD yang berbeda memerlukan respons pedagogis yang sangat berbeda.
7. SD yang sangat kecil (0,3 dari skor maksimum 20) berarti hampir semua siswa mendapat skor yang sama (antara 17,7 hingga 18,3). Ini mengindikasikan soal terlalu mudah. Tes yang tidak mampu membedakan kemampuan siswa tidak dapat digunakan untuk evaluasi yang bermakna ā tidak ada informasi tentang siapa yang benar-benar menguasai materi dan siapa yang tidak.
8. Rata-rata keterlibatan jemaat berada di angka 3,6 dari skala maksimum 5, yang dapat dikategorikan sebagai “cukup terlibat”. Median lebih tinggi dari mean (4,0 vs 3,6) mengindikasikan distribusi yang sedikit miring ke kiri ā sebagian besar jemaat memiliki keterlibatan di atas rata-rata, namun ada sejumlah kecil jemaat dengan skor sangat rendah yang menarik mean ke bawah. SD 0,9 menunjukkan tingkat keterlibatan yang relatif seragam. Gereja perlu menaruh perhatian khusus pada kelompok jemaat dengan skor mendekati 1 (nilai minimum yang dicapai).
9. Kalimat tersebut tidak mencukupi karena tidak memberikan informasi tentang (a) penyebaran nilai ā apakah semua siswa mendapat nilai sekitar 72 atau ada yang 40 dan ada yang 100; (b) nilai tertinggi dan terendah; (c) jumlah siswa yang diteliti; dan (d) ukuran pemusatan lain (median) untuk mendeteksi kemungkinan outlier. Perlu ditambahkan: N, min, maks, range, SD, dan narasi interpretasi kontekstual.
10. Statistika deskriptif hanya menggambarkan data yang ada. Contoh: “Rata-rata skor kepuasan 30 jemaat terhadap program pemuridan adalah 7,8 dengan SD = 1,2.” Tidak ada klaim tentang jemaat gereja lain. Statistika inferensial menarik kesimpulan lebih luas. Contoh: “Berdasarkan 30 jemaat sebagai sampel, program pemuridan ini diperkirakan efektif untuk meningkatkan kepuasan jemaat secara umum di gereja-gereja sejenis (uji-t, p < 0,05).”
